Jumat, 26 Januari 2018

Prospek Usaha Peternakan di Indonesia

PROSPEK USAHA PETERNAKAN DI INDONESIA
Part 1

Usaha peternakan di Indonesia memiliki prospek yang sangat baik, karena permintaan produk pangan asal ternak semakin meningkat. Daging, susu dan telur yang menjadi produk utama usaha peternakan merupakan sumber protein hewani bagi masyarakat. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, perkembangan ekonomi masyarakat, perbaikan tingkat pendidikan dan perubahan gaya hidup sebagai akibat dari adanya globalisasi dan urbanisasi maka permintaan produk pangan ini pun semakin meningkat. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 237,6 juta jiwa pada tahun 2010 dengan laju pertumbuhan tahun 2010 – 2015 sebesar 1,38 persen (BPS, 2017). Saat ini Indonesia masih menjadi importir berbagai jenis pangan seperti beras, jagung, kedelai, daging, susu dan bahan pangan lainnya. Produksi susu, daging dan telur dalam negeri belum mampu untuk memenuhi kebutuhan sumber protein hewani ini. Kondisi ini tentu saja menjadi peluang yang baik bagi pengusaha untuk mengembangkan usaha peternakan.
Ketahanan pangan akan terwujud apabila Indonesia mampu untuk memproduksi pangan (subsitusi impor) dengan tetap mempertahankan daya saing dan pemberdayaan petani/peternak kecil, melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal dan didukung oleh inovasi teknologi, kelembagaan, permodalan, serta kebijakan pemasaran yang tepat.
Indonesia kaya akan keanekaragaman plasma nutfah ternak. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI mengatakan bahwa Indonesia memiliki 58 jenis ternak lokal potensial yang bisa dikembangkan yaitu terdiri atas sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, itik dan kuda. Hal ini seharusnya dapat menjadi modal bagi peternak untuk mengembangkannya menjadi komoditas dalam negeri yang menguntungkan.
Sayangnya potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Padahal rumpun ternak asli Indonesia memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan ternak impor. Salah satunya adalah dalam adaptasi terhadap lingkungan tropis dengan sifat reproduksi yang baik sebagai akibat dari adanya seleksi alam yang alami (Nurmaliati).
Upaya meningkatkan daya saing produk peternakan harus dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas departemen. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas suplai dan demand sesuai dengan keadaan pasar.

 Pembangunan usaha dan industri peternakan Indonesia semestinya dibangun berdasarkan potensi, kekuatan dan peluang yang tersedia sekaligus memperhatikan tantangan, ancaman dan kelemahan yang ada. hal ini dapat dilakukan dengan mensinergikan keunggulan komparatif dan inovasi lokal dan mengkombinasikan dengan teknologi yang masuk ke Indonesia. Upaya pembangunan jangan hanya berfokus pada upaya mendorong konsumsi protein hewani, meningkatkan produksi, maupun mewujudkan swasembada. Namun, juga harus menekankan upaya mewujudkan kemandirian, ketahanan pangan dewani, kesejahteraan peternak dan keberlanjutan usaha.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kala Hujan Menghapus Rindu

  Hujan kembali turun ... Mengingatkan ku padamu ... Pada semua harapan yang kau gantungkan Pada setiap tetesan air yang turun ...  ...