Bagaikan petir yang menyambarku saat panas terik,,, kau hancurkan segala rasa cintaku dengan kata perpisahanmu. Air mataku tak mampu aku bendung lagi, semuanya mengalir begitu saja membasahi pipiku. Hatiku hancur seiring dengan hancurnya kepercayaanku padamu. mengapa kamu mempermainkan perasaanku, mengapa kau mengakhiri semuanya disaat rasa cintaku padamu begitu dalam. Aku tak bisa marah padamu, meski rasanya hatiku ini ingin sekali memakimu. Makian terlalu indah untukmu.
Ingin rasanya aku melampiaskan kemarahanku dengan berteiak padamu,
tapi aku tak mungkin memaki. susunan kalimat yang terangkai begitu indah dan
menghancurkan segala harapanku.
Aku tak bisa melampiaskan semua kemarahan, kekecewaan dan
kekesalanku secara langsung padamu. Hingga akhirnya aku memilih jalan ini.
Ingin rasanya ku menghukum mu dengan cara yang indah namun terasa
sangat menyakitkan. Tapi kenapa justru aku merasa lebih sakit dan tersiksa.
Ingin rasanya aku menghukummu dengan rasa kehilangan, kehilangan
cinta yang begitu tulus mencintaimu. Tapi mengapa justru aku yang merasa
kehilangan.
Ingin rasanya aku menghukummu dengan rasa cemburu, melihatku
dengan yang lain. tapi kenapa justru saat aku bersama mereka aku merasa sakit.
Katakan padaku, apa aku salah? Apa aku salah ingin menghukummu?
Orang yang aku cintai tapi justru kamu orang yang melukaiku.
Man, kenapa kau melakukan ini padaku? Apa sebegitu hinanya cintaku
hingga kamu melakukan ini semua padaku. Kau mempermainkanku dan juga cintaku.
Saat aku mulai berusaha untuk menikmati hidupku tanpa dirimu,
kenapa kamu kembali padaku. Kenapa kamu meminta aku untuk kembali ....
Tahukah kamu saat kamu memutuskan hubungan kita, saat itu pula aku
berjanji untuk tidak kembali padamu. Tahukah kamu saat kamu mengancam akan
mengakhiri hidupmu jika aku tidak kembali, apa yang aku rasakan.
Rasanya begitu menyakitkan, hingga karena rasa sakit itu aku tak
mampu lagi untuk melihatmu. Aku tidak ingin menemui bukan karena aku membencimu
tapi aku tidak sanggup melihat wajahmu. Rasanya begitu menyakitkan, Man.
Rasa cintaku yang begitu dalam untukmu membuat ku tak bisa bertahan disisimu.
Tahukah kamu saat memperlihatkan pisau itu, hati ini yang
tersayat. Andai saja aku bisa memilih antara hati dan tanganku, aku akan
membiarkan tangan ini yang tersayat.
Maafkan aku karena tidak bisa menerima, dan maafkan aku karena aku
lebih memilih untuk menggenggam tangannya di banding kembali padamu.
Aku tersiksa, Man. Sangat tersiksa...
Dan aku lebih tersiksa lagi saat tahu kamu pergi... Kamu pergi
meninggalkan aku selamanya...
Kenapa Man, kenapa kamu menghukum aku lagi... Atau mungkin ini
cara yang kamu berikan untuk membalasku ... Rasanya terlalu menyakitkan Man ...
Tak cukup cukupkah semua hukuman itu, tak cukupkah rasa sakit itu
hingga kini kamu memberi aku hukuman berikutnya ... Kamu menyiksa aku dengan
rasa bersalahku padamu... Rasa bersalah yang bahkan sampai ini belum terhapus,
menyisakan sebuah penyesalan yang mungkin akan tertanam seumur hidupku.
Man .... Apa tidak bisa kamu menghukumku dengan cara lain, bukan
dengan cara seperti ini... Kenapa sosokmu begitu kuat dalam ingatanku, mengapa
aku tak bisa membencimu??
mengapa hanya kebaikanmu, mengapa hanya kenangan indah kita yang
tersimpan dalam ingatanku, membuatku buta akan sosok indah lainnya.
Man .... Kenapa aku tidak bisa membencimu, kenapa aku tidak bisa
menghapus cinta ini, kenapa? Aku ingin menjalani kehidupanku dengan yang lain,
tidak hanya dengan belenggu cintamu. Tidak hanya dengan penyesalan,
Penyesalan ini membuatku tak bisa merasakan cinta yang lain ....
Maafkan aku dan semua kesalahanku. Bukakanlah hati ini, Hati yang
membeku karena cintamu ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar