Jumat, 26 Januari 2018

Prospek Usaha Peternakan di Indonesia

PROSPEK USAHA PETERNAKAN DI INDONESIA
Part 1

Usaha peternakan di Indonesia memiliki prospek yang sangat baik, karena permintaan produk pangan asal ternak semakin meningkat. Daging, susu dan telur yang menjadi produk utama usaha peternakan merupakan sumber protein hewani bagi masyarakat. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, perkembangan ekonomi masyarakat, perbaikan tingkat pendidikan dan perubahan gaya hidup sebagai akibat dari adanya globalisasi dan urbanisasi maka permintaan produk pangan ini pun semakin meningkat. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 237,6 juta jiwa pada tahun 2010 dengan laju pertumbuhan tahun 2010 – 2015 sebesar 1,38 persen (BPS, 2017). Saat ini Indonesia masih menjadi importir berbagai jenis pangan seperti beras, jagung, kedelai, daging, susu dan bahan pangan lainnya. Produksi susu, daging dan telur dalam negeri belum mampu untuk memenuhi kebutuhan sumber protein hewani ini. Kondisi ini tentu saja menjadi peluang yang baik bagi pengusaha untuk mengembangkan usaha peternakan.
Ketahanan pangan akan terwujud apabila Indonesia mampu untuk memproduksi pangan (subsitusi impor) dengan tetap mempertahankan daya saing dan pemberdayaan petani/peternak kecil, melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal dan didukung oleh inovasi teknologi, kelembagaan, permodalan, serta kebijakan pemasaran yang tepat.
Indonesia kaya akan keanekaragaman plasma nutfah ternak. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI mengatakan bahwa Indonesia memiliki 58 jenis ternak lokal potensial yang bisa dikembangkan yaitu terdiri atas sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, itik dan kuda. Hal ini seharusnya dapat menjadi modal bagi peternak untuk mengembangkannya menjadi komoditas dalam negeri yang menguntungkan.
Sayangnya potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Padahal rumpun ternak asli Indonesia memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan ternak impor. Salah satunya adalah dalam adaptasi terhadap lingkungan tropis dengan sifat reproduksi yang baik sebagai akibat dari adanya seleksi alam yang alami (Nurmaliati).
Upaya meningkatkan daya saing produk peternakan harus dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas departemen. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas suplai dan demand sesuai dengan keadaan pasar.

 Pembangunan usaha dan industri peternakan Indonesia semestinya dibangun berdasarkan potensi, kekuatan dan peluang yang tersedia sekaligus memperhatikan tantangan, ancaman dan kelemahan yang ada. hal ini dapat dilakukan dengan mensinergikan keunggulan komparatif dan inovasi lokal dan mengkombinasikan dengan teknologi yang masuk ke Indonesia. Upaya pembangunan jangan hanya berfokus pada upaya mendorong konsumsi protein hewani, meningkatkan produksi, maupun mewujudkan swasembada. Namun, juga harus menekankan upaya mewujudkan kemandirian, ketahanan pangan dewani, kesejahteraan peternak dan keberlanjutan usaha.  

Senin, 22 Januari 2018

Menuju Swasembada Daging

Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang disusun untuk mengikuti program essai gagasan tertulis yang diadakan pada saat kegiatan penerimaan baru di kampus Universitas Padjadjaran. Tulisan ini merupakan pengalaman pertama saya dalam menuangkan ide menjadi sebuah tulisan ilmiah. 

“MENGUBAH ANGAN – ANGAN MENJADI KENYATAAN “
(MENUJU INDONESIA DENGAN SWASEMBADA DAGING)

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi negara importir berbagai jenis bahan pakan. Termasuk ternak sapi dan juga daging sapi. "Hingga akhir 2012 kebutuhan daging sebesar 1,9 kilogram. Tahun depan nilainya akan meningkat. Sehingga impor harus dilakukan," kata Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, Kamis (6/12). Untuk 2013, pemerintah telah menetapkan kuota impor daging sapi 15 persen dari total kebutuhan sebesar 500 ribu ton. 
Persoalan ketersediaan daging sapi masis sering dijadikan bahan polemik oleh sejumlah pihak, terutama dikaitkan dengan supply dan kebutuhan, termasuk menjelang lebaran tahun 2013. Sejak beberapa bulan terakhirpun, harga daging sapi masih diatas rata-rata normal atau mahal, apalagi dengan alasan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak(BBM).
 Pada bulan ramadhan tahun ini kebutuhan daging sapi semakin meningkat, sementara harga daging sapi lokal di pasaran masih diatas Rp 100.000,00/kg yaitu berkisar antara Rp 115.000,00 – Rp  120.000,00/kg. Dan untuk menstabilkan harga, lagi-lagi Indonesia harus mengimpor daging dan sapi dari Australia. Pemerintah mengimpor ratusan ton daging dengan harga yang lebih murah dan 1.478 ekor sapi siap potong dari Australia (Pikiran Rakyat, Juli 2013).
Haruskah Indonesia terus bergantung pada negara lain? Bukankah Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam? Bukankah negara Indonesia adalah negara agraris dengan luas lahan yang sangat luas? Jawabannya adalah TIDAK, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada negara lain. Sudah saatnya negara kita berdiri sendiri dengan SWASEMBADA DAGING.
Upaya peningkatan produksi ternak sapi potong dalam negeri terus diupayakan, sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap sapi potong dan daging sapi impor. Salah satu cara yang ditempuh, adalah perbaikan maupun peningkatan kemampuan usaha penggemukan peternak sapi potong skala rakyat.
Indonesia adalah negara agraris dengan luas wilayah yang sangat besar yakni 1.922.570 km2, dengan jumlah 17.508 pulau dari Sabang hingga Merauke dan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, negara dengan tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia dan beriklim tropis. Semua itu membuat Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, sangat berpotensi untuk mengembangkan potensi sumber daya hayati terutama sektor peternakan. Indonesia kaya akan bibit ternak, baik ternak asli Indonesia maupun hasil persilangan dengan ternak luar dan memiliki ciri khas tersendiri. Termasuk peternakan sapi potong.
Walaupun pertumbuhan populasi ternak terus meningkat dari tahun ke tahun, ternyata belum berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan keluarga petani. Hal ini diduga disebabkan karena sebagian besar peternak Indonesia bukan peternak komersil/skala ekonomis. 90% peternak di Indonesia merupakan peternak tradisional dimana mereka beranggapan bahwa beternak dijadikan sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan dan sebagian lainnya adalah pengusaha penggemukan (feedloter). Metode pengembangan pembangunan peternakan sapi potong ini dilakukan dengan cara
1.  Mengubah Paradigma Ternak sebagai Tabungan menjadi Ladang Komersial
Sebagian besar peternak Indonesia adalah peternak tradisional dengan jumlah populasi ternak yang sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka juga beranggapan bahwa ternak hanyalah sebagai tabungan bukan sumber pendapatan. Dimana mereka menjualnya hanya saat mereka membutuhkan, sebagian besar dari mereka menjualnya pada saat menjelang lebaran dan awal masuk sekolah. Pemikiran seperti inilah yang harus kita ubah demi terciptanya Swasembada Daging di negara tercinta ini.
Salah satu upaya mengubah pemikiran ini adalah dengan memberikan penyuluhan atau pendekatan kepada peternak untuk meningkatkan jumlah produksi mereka, meningkatkan populasi yang mereka miliki. Pendekatan yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan pemberitahuan tentang sistem penggemukan dan pemeliharaan sapi potong yang sistematis dan pengetahuan tentang prospek bisnis ternak sapi potong. Sehingga mereka bisa lebih tertarik untuk beternak sapi potong.
2.  Pengenalan kultur pengembangbiakan hewan dengan teknik yang lebih terarah
Peternak sering mengalami kesulitan mengembangbiakan ternaknya. Banyak dari mereka yang tidak tahu tentang bagaimana siklus produksi ternak sehingga ternak mereka tidak berproduksi dengan maksimal. Kondisi seperti ini bisa menjadi penghambat berkembangnya peternakan Indonesia.
Dalam hal ini pengenalan/sosialisasi mengenai tatacara perkembangbiakan, teknik penggemukan daging secara periodik dan juga siklus reproduksi ternak. Sosialisasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti penyuluhan, pelatihan untuk peternak tradisional, serta pendekatan secara langsung kepada peternak.
3.  Pengenalan mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan penghasilan
Banyak peternak yang mengeluh penghasilan mereka tidak cukup jika hanya mengandalkan pada ternak saja. Penghasilan mereka tidak terasa karena tidak ada pembukuan usaha yang baik. Mereka sering mencampurkan urusan usaha dengan urusan keluarga sehingga margin usaha terasa lebih berat.
Pengetahuan tentang pembukuan dan peningkatan mutu itulah yang seharusnya lebih ditekankan kepada para peternak kita. Sosialisasi tentang peningkatan mutu bisa kita lakukan kepada para ibu rumah tangga, daripada mereka menjadi buruh tani atau buruh cuci mereka bisa membuka usaha pengolahan daging. Sosialisasi mengenai pengetahuan ini bisa di lakukan dengan mengadakan perkumpulan ibu rumah tangga dengan satu pembicara, kumpulan secara berkala yang di langsung bimbing oleh fasilitator desa maupun dengan peminjaman modal dengan pengawasan khusus.
4.  Sosialisasi Dini tentang Peternakan untuk Generasi Muda
Pandangan peternakan itu menjijikan dan menakutkan bagi sebagian besar remaja dan generasi muda  yang harus diubah, melalui Sosialisasi Dini mengenai peternakan bisa membangun pemikiran bahwa memelihara sapi itu bukan hal yang menjijikan melainkan hal yang menyenangkan dan menambah wawasan baru. Karena pada dasarnya dengan beternak kita tak akan berhenti belajar, sebab setiap hari  permasalahan dalam ternak adalah ilmu baru untuk peternak.
Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara seminar ke sekolah-sekolah seperti SD, SMP, atau SMA. Dapat juga berupa pelatihan atau acara study tour ke perusahaan peternakan/dinas peternakan.
5.  Peningkatan Peran Pemerintah
Dalam upaya menuju Swasembada Daging peran pemerintah sangatlah penting. Karena dukungan dan kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh pada perkembangan peternakan sapi potong di Indonesia. Dalam hal ini pemerintah sebaiknya melakukan dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung peternak dalam negeri bukan hanya kebijakan mengenai impor yang hanya menguntungkan para eksportir.
     Seharusnya pemerintah melakukan hal-hal sbb :
  • Menciptakan kebijakan untuk meningkatkan daya saing
  • Peningakatan mutu produk
  • Kemudahan ijin usaha untuk home industri
  • Pembangunan insfrasktur, sarana maupun prasarana  untuk sosialisasi pengembangan peternakan sapi potong.
  • Fokus pada kebijakan pembangunan peternakan
  • Pendekatan agribisnis
  • Pengawasan secara khusus dan berkala terhadap penerima bantuan modal usaha sehingga kegiatan usaha dapat terpantau dan tidak terbengkalai.

Minggu, 21 Januari 2018

Cerpen - Rindu untuk Ibu

Cinta adalah sebuah alasan untuk kita melakukan segala sesuatu untuk membuat orang yang kita cintai bahagia. Cinta yang tulus membuat seseorang rela mengorbankan segalanya bahkan nyawa sekalipun sanggup mereka gadaikan demi orang yang dicintainya. Tidak ada kata lelah, maupun menyerah untuk mewujudkan segala keinginannya, tidak ada kata istirahat bahkan seluruh waktunya pun rela ia korbankan  untuk tetap menjaga dan melindungi orang yang dicintainya. Meski cinta itu tidak pernah terbalas, meski hanya bantahan, cacian bahkan tangisan yang diberikan tapi cinta itu tidak pernah berubah, masih tetap sama dan akan selalu sama, bahkan cintanya akan semakin bersar seiring dengan berjalannya waktu. Itulah cinta seorang ibu kepada anaknya, tak akan pernah seorangpun yang mampu untuk menggantikannya. Saat cinta itu hilang, anak baru menyadari betapa besar kasih sayang sang ibu kepadanya. Tapi sadar itu kini sudah terlambat karena ibu tak akan pernah kembali, menyisakan sebuah penyesalan yang tiada pernah bisa hilang. Tak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya kembali bahkan tak ada lagi kesempatan untuk kita membalas ataupun hanya sekedar memohon ampun atas segala kesalahan yang kita lakukan padanya. hanya do’a yang mampu terucap sebagai hantaran untuk kebahagiaan dan ketenangannya.
∞ Nayla Rahma Nugraha ∞
 “Nay dari mana, kenapa baru pulang?” tanya ibu lembut. Nayla hanya tersenyum pahit menyalami ibunya kemudian berlalu menuju kamarnya. Tapi ibu menahan tangannya, Nayla menoleh.
“Nay ibu ingin bicara sama Nayla, boleh?” tanya ibunya masih halus.
“Nayla cape bu, Nayla pengen istirahat. Boleh kalau kita bicara besok?” Nayla melepaskan tangan ibunya.
“sebentar saja sayang” ibunya masih memujuk, tapi Nayla tidak ambil peduli.
“bu, Nayla cape jadi bolehkan kita bicara besok” kini nada bicara nayla sudah naik satu oktaf, membuat ibunya mengangguk perlahan. Nayla menarik nafas lega, sebenarnya dia tidak benar-benar lelah tapi dia tahu apa yang akan dibicarakan ibunya. Jadi dari pada dia bertengkar dengan ibunya lebih baik dia menghindar, meskipun dia sadar bahwa tadi dia sudah berkata kasar pada ibunya.
“ya sudah, Kamu istirahat ya nak. Jangan lupa solat” Nayla berlalu kemudian benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ibunya menghela nafas panjang. Beliau sedikit terasa dengan sikap anaknya yang berani meninggikan suara. Ini pertama kalinya dia mendengar suara keras anaknya. Biasanya selelah apapun Nayla hanya mencibir atau tersnyum sinis tapi kali ini. ibu menahan sebak dalam hatinya dan beristigfar.
“ibu kenapa?” tanya ayah, dari tadi dia memperhatikan istrinya hanya termenung memandang kamar anaknya. Apa mungkin mereka bertengkar lagi, atau mungkin terjadi sesuatu dengan Nayla. Dari tadi beliau juga tidak melihat Nayla keluar dari kamarnya.
“ibu tidak apa-apa kok yah, ibu hanya kecapean aja” ucapnya berbohong. Ayah mencoba percaya meskipun tidak dia belum sepenuhnya percaya pada sang isteri dan sekarang dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan “Nayla kemana bu?”
“semenjak pulang kerja dia belum keluar dari kamarnya, mungkin dia tertidur karena kelelahan. Ayah tahu sendiri beberapa bulan ini dia sangat sibuk bahkan sering kali lupa untuk menjaga kesehatannya” ayah menghela nafas mendengar jawaban isterinya, entah sejak kapan beliau merasa kalau Nayla sedang mencoba menghindar dari keluarga dan mengalihkan seluruh perhatiannya pada bisnis yang sedang dijalaninya. Terkadang beliau merasa sedih karena selama ini beliau tidak bisa membantu apa-apa. Adik-adiknya sudah membantu tapi tetap saja mereka hanya bisa melakukan sebagian kecil dari tugasnya. Terkadang beliau juga merasa sedih karena kesibukan sang anak membuatnya lupa akan kewajibannya untuk menyempurnakan separuh agama yang hingga kini masih tergadai. Mungkin itu jugalah yang ada dalam pikiran sang isteri sekarang.
Sementara itu di dalam kamar Nayla kembali membulak-balikan file yang harus dipelajari sebelum matahari terbit besok. Besok dia harus menemui client yang ingin membeli beberapa ratus ekor sapi dari peternakannya dan dia harus memeriksa beberapa file yang dibutuhkan untuk kontrak jual beli. Akhirnya setelah 2 jam berkutat dengan file nya nayla bisa menyelesaikan tugasnya.  Dia menoleh ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Dan ini waktunya dia untuk tidur, besok dia harus ke luar kota untuk mengecek persiapan pengiriman.
***
Pagi ini Nayla bangun lebih pagi untuk melaksanakan solat malam, dia ingin bermunajat kepada Allah agar dia segera diberi kekuatan untuk tetap bersabar daam menjalani segala ujian yang ada dalam kehidupannya selama ini. Dalam hatinya hanya ada satu yang selalu dia minta kepada Sang Pencipta. Keinginan untuk merubah takdirnya yang sampai sekarang belum juga berubah. Keinginan untuk menyandang sebuah takdir yang pastinya juga diinginkan oleh keluarganya. Takdir menjadi seorang isteri kepada seorang insan yang melabuhkan cintanya kepada sang Pencipta. Selepas solat subuh dia segera bersiap-siap untuk berangkat, dia harus sampai sebelum jam 9 pagi dan dia tidak mau terjebak macet jika menunggu fajar  tiba. Nayla keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan ibunya.
“Nayla mau kemana? Ini kan masih subuh sayang?” tanya ibunya. Nayla hanya terdiam sesaat dia masih merasa bersalah karena sikapnya kemarin.
“Nayla harus pergi ke peternakan bu, ada sesuatu yang harus Nayla periksa” jawabnya canggung.
“tapi apa ini tidak terlalu pagi Nayla belum sarapan dan bukannya dari semalam Nayla belum makan” ucap ibunya.
“nayla gak apa-apa kok bu. Nayla bisa sarapan di jalan nantinya” jawab Nayla seraya menggapai tangan ibunya.
“kamu tunggu sebentar ibu siapain sarapan dulu buat kamu ya..” ucap ibu menahan tangan Nayla, hendak berlalu ke dapur tapi Nayla menahan gerak tangan ibunya.
“Nayla sudah terlambat bu”
“tapi”
“Nayla sudah bilang kan kalau nayla bisa sarapan di sana” ucap Nayla dingin, dia mencium tangan ibunya kemudian berlalu meninggalkan yang masih terkaku dengan sikap dingin anaknya. Entah apa kesalahan beliau hingga Nayla sanggup mendiamkannya dalam dingin seperti ini. apa ini karena sikapnya yang terlalu menekan Nayla untuk segera menikah padahal dia belum mau. Salahkah beliau berharap kalau dia akan mendapatkan cucu dari anak perempuan satu-satunya itu. Sekali lagi beliau beristigfar dan menghela nafas panjang.
“Maafkan Nayla bu, bukan Nay bermaksud bersikap tidak baik sama ibu. Nayla tidak tahu kenapa Nayla bersikap seperti ini. Nayla tertekan bu, Nayla bingung Nayla seperti kehilangan arah karena ibu dan ayah terus-terusan menekan Nayla untuk menikah. Beri Nayla waktu bu, untuk memulihkan kembali segalanya” lirih nya menatap sang ibu sebelum dia benar-benar keluar dari rumah. Dalam hatinya dia ikut menangis karena bersikap kasar dan tidak baik pada ibunya. Dia tahu semua itu salah tapi entah mengapa perasaan dan egonya selalu menang dan berhasil membuatnya melanggar batas kesopanan pada orang tua.
***
2 bulan telah berlalu sejak kejadian pagi itu, sejak itu juga Nayla bersikap dingin pada sang ibu. Meski tidak terlalu kentara tapi semua itu tetap dirasakan sang ibu, entah mengapa beberapa waktu ini beliau memang lebih perasa dan sensitif. Sementara itu Nayla semakin sibuk dengan pekerjaannya bahkan jarang pulang ke rumah, dia lebih sering menghabiskan waktu nya di kantor atau bahkan apartemennya.
Malam itu Nayla pulang ke rumah sangat larut karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Rasa lelah yang mendera tubuh membuatnya ingin segera memasuki kamar untuk beristirahat. Namun semua itu terhenti saat sang ibu memanggilnya.
“Ada apa bu?” jawab Nayla rendah, sememangnya dia sudah tidak bisa lagi bersuara keras karena tenaganya telah habis terkuras.
“Nayla dari mana saja kenapa baru pulang?” tanya ibunya lembut seraya mendekati anaknya. Nayla hanya berdiri kaku di dekat tangga rumahnya.
“Nayla kerja bu” jawabnya lemah. Ibunya menghella nafas mendengar jawaban anaknya, bukan itu yang ingin dia dengar karena dia sudah tahu. Tapi dia ingin tahu kemana saja anaknya pergi selama seminggu ini dia tidak pulang ke rumah.
“Nay, tidur dimana semalam?” tanya ibunya lagi.
“bu, bisa kita bahas ini nanti. Nayla cape banget bu” jawab Nayla semakin dingin. dia beranjak melangkah menuju kamarnya.
“Nay, ibu Cuma bertanya darimana saja kamu seminggu ini. ibu kuatir sama Nayla. Beberapa minggu ini Nayla selalu saja pulang malam bahkan Nayla juga jarang pulang. Ibu kuatir sama kesehataan kamu nak” lirih ibunya, dia mulai perasan dengan sikap dingin ankanya. Akh terlalu banyak yang berubah dari sikap Nayla. Dulu Nayla tidak pernah bersikap sedingin ini, Nayla selalu tersenyum dan ceria. Dia ingat kalau malam minggu seperti ini mereka selalu menonton bersama di ruang tamu atau keluar jalan-jalan bersama suaminya.
“ibu kenapa berdiri di situ?” tanya ayah. Beliau sedikit merasa heran dengan sikap istrinya yang selalu saja termenung sendiri. Beliau selalu merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.
“Nayla, yah” jawabnya lembut seraya memeluk suaminya. Ayah membalas pelukan istinya dia tahu perasaan sang istri yang merindukan anaknya. Beliau juga perasan ddengan sikap Nayla yang sedikit menjauh darinya dan istrinya.
“Nayla gak mau bicara sama ibu, yah” akhirnya ibu bisa mengungkapkan segala perasaan yang mengganjal di hatinya. Ayah hanya bisa menghela napas, beliau sebenarnya tidak tega dengan keadaan istrinya. Selain memiliki penyakit darah tinggi beliau juga memiliki tekanan batin karena sikap Nayla saat ini. beliau juga sebenarnya tidak mengerti kenapa Nayla berubah seratus delapan puluh derajat, tidak ada lagi Nayla yang ceria dan ramah, tidak ada lagi Nayla yang lembut dan tidak ada lagi Nayla yang penurut. Semuanya seolah sirna di telan bumi, ‘Ya Allah bukakanlah pintu hati anak hamba Ya Rabb. Jika dia memiliki beban maka ringankanlah bebannya dan jika dia berbuat kekhilafan maka ampunkanlah’ lirih ayah dalam hati.
“sabar ya bu, mungkin Nayla memang sedang banyak pekerjaan sehingga dia seperti itu”
***
Sementara itu di kamar Nayla tengah mengeringkan rambutnya, dia baru saja selesai mandi. Meskipun dokter sudah melarangnya untuk melakukan aktivitas berlebihan dan juga mandi di tengah malam. Tapi semua itu dilakukannya untuk bisa melupakan tekanan batin yang selama ini menghimpitnya. Tekanan yang dia dapat dari ibunya yang selalu menanyakan soal pernikahan.  Bukan dia tidak ingin menikah tapi pada kenyataannya dia belum menemukan calon yang sesuai dengan harapannnya. Dia tidak lagi melihat harta, pangkat, status atau apapun yang berhubungan dengan keduniaan. Yang dia butuhkankan hanyalah laki-laki yang menyerahkan  cintanya kepada Allah Swt. Mencintainya karena Allah bukan hanya karena nafsu seperti laki-laki yang pernah datang padanya.
Selama ini bukannya dia sengaja ingin menjauh dari orang tuanya tapi dia hanya tidak siap menghadapi orang tuanya. Dia hanya takut kalau dia akan mengecewakan orang tuanya lagi jika mendengar jawabannya.
Selama ini juga bukan dia tidak berusaha untuk mendapatkan jodohnya. Dia memang sering menolak pinangan laki-laki yang datang padanya tapi bukan karena alasan yang tidak jelas. Semua yang datang padanya bukanlah laki-laki yang mampu membawa kebaikan dalam kehidupannya. Bahkan selama ini dia tidak memutuskannya sendiri, dia selalu melakukan istikharah panjang dalam setiap keputusan yang berkenaan dengan kehidupannya. Dan semua jawabannya adalah jawaban yang selama ini dia utarakan kepada kedua orang tuanya.
Nayla menghela nafas panjang, jika mengingat sikapnya pada sang ibu. Dia selalu merasa bersalah dan dia selalu minta ampun kepada Allah dalam setiap do’anya. Dia tahu dia sudah keterlaluan tapi entah mengapa jiwanya selalu menolak untuk berhadapan ataupun sekedar mendengarkan suara ibunya. Jiwanya seolah berontak dan memintanya untuk pergi menjauh.
‘Ya Allah tunjukanlah aku petunjukmu dalam menghadapi ujian ini. Hamba tidak sanggup menjalani semua ini sendiri Ya Rabb, hamba butuh bantuan dan pertolongan-Mu Ya Rabb. Karena sesungguhnya tiada tempat hamba untuk menyembah dan meminta pertolongan selain hanya pada-Mu Ya Allah’ gumam Nayla dalam hati.
Leka dalam lamunan membuatnya tidak menyadari bahwa dari tadi sang ayah sedang memperhatikannya dari daun pintu. Sang ayah memperhatikannya dengan wajah yang tidak kalah sendu. Beliau dapat melihat kesedihan dan tekanan yang menghimpit pikiran anak gadisnya itu. ‘maafkan ayah nak. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. Maafkan ayah yang membiarkanmu terlalu lena dengan pekerjaanmu hanya karena ayah tidak dapat membantu apa-apa. Maafkan ayah yang terus menekanmu untuk menikah tanpa memikirkan perasaan kamu. Tapi asal kamu tahu nak, ayah selalu mendo’akan hal yang terbaik untukmu dan juga kebahagiaanmu. Ayah selalu berdo’a agar kamu tetap kuat dan bahagia dalam menjalani kehiduoan dan ujian yang menimpa kehidupanmu. Sekali lagi maafkan ayah karena hanya do’a yang bisa ayah berikan untuk meringankan bebanmu’ gumam ayah dalam hati. Niat semula ingin berbicara dengan anaknya terpaksa dia undur melihat wajah lelah anaknya. Seharian bekerja memang tidak mudah untuk dijalaninya mengingat dia hanyalah seorang wanita yang memiliki berbagai keterbatasan.
***
Hari itu Nayla bangun kesiangan. Memang dia tertidur lagi setelah sembahyang subuh. Dia melihat ke arah jam dinding, 09.00. ternyata dia tertidur sangat lama. Nayla menoleh ke arah jendea yang sudah terbuka dan mengundang sinar mentari untuk masuk menerangi kamarnya. Lampu kamar sudah dimatikan dan .. ‘hmmpt’ dia mencium harum nasi goreng yang sudah tersedia di meja kecil samping tempat tidurnya.
“akh. Ibu, kenapa ibu selalu membuat Nayla merasa bersalah karena kasih sayang ibu. kenapa ibu masih sangat mencintai Nayla padahal selama ini Nayla selalu bersikap buruk sama ibu” Nayla bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju balkon. Dia ingin menghirup udara segar yang sudah lama dia tidak hirup. Dia ingin melihat salah satu ciptaan tuhan yang paling indah.
Nayla berdiri dia atas balkon, memejamkan matanya dan menghirup udara sedalam mungkin, lalu kemudian melepaskannya perlahan. Nayla melakukannya berulang-ulang sebelum membuka lagi matanya. Saat dia membuka mata, seperti yang dia harapkan kalau dia akan melihat ciptaan Tuhan yang paling indah. Sebuah wajah yang menyambutnya dengan sebuah senyuman paling indah. Senyuman yang tak pernah berubah dari dulu. Senyuman yang selalu ada dalam keadaan apapun. Senyuman yang selalu membuatnya merasa bahwa dia tidak sendiri. Senyuman yang berasal dari sebuah ketulusan kasih sayang seorang ibu.
Melihat senyuman itu membuat Nayla sadar bahwa selama ini dialah yang telah dikuasai oleh ego dan juga kemarahan sesaat. Seharusnya dia menyadari bahwa selama ini sang ibu hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Mungkin perkataan murrabinya benar, selama ini dia seharusnya tidak berusaha mendamaikan hati ibunya tapi seharusnya dialah yang mencoba berdamai dengan diri sendiri.
‘seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuknya. dia tidak berharap apa-apa dari anaknya selain kebahagiaan mereka. Terkadang memang dia memaksakan kehendaknya tapi itu bukan karena dia ingin menjeumuskan anaknya, bukan juga karena dia tidak mengerti perasaan sang anak. Namun kasih sayang mereka yang begitu besar membuat dia kadang khawatir dengan masa depan anaknya. Dalam hal ini Ibumu terlalu khawatir jika saat dia pergi, belum ada yang menjaga dan melindungi kamu secara utuh. Sedangkan ayahmu terlalu tua untuk menjaga kamu. Dan rasa khawatir itulah yang menekan ibumu untuk melakukan semua itu, percayalah nak, semua itu hanya wujud kasih sayang seorang ibu untuk anaknya’ ucap sang murrabbi saat kemarin dia menyempatkan diri untuk mampir ke mushola, setelah hampir 3 bulan dia absen dari pengajian itu.
‘itu artinya saya harus mencoba berdamai dengan ibu saya ustadzah?’ tanya Nayla masih bingung. Nayla masih ingat sang murrabi malah tersenyum dan menggeleng.
‘terus apa yang harus saya lakukan ustadzah?’
‘kamu tidak harus berdamai dengan ibumu ataupun mendamaikan hatinya. Yang harus kamu coba lakukan adalah berdamai dengan hati kamu sendiri, karena perasaan kamu lah yang membawamu pergi menjauh dari ibumu dan perasaan itu jugalah yang membuat adanya perang dingin antara kamu dan ibumu.  Ibumu hanya ingin kamu menuruti permintaannya, itu saja. Bukankah selama ini dia tetap memberikan segala keputusan ada di tangan kamu. Bukankah selama ini dia tidak memaksa kau untuk menerima’ ucap sang murrabi menekankan.
Nayla kembali memandang wajah sang ibu yang sedang leka dengan bacaan di tangan. ‘mungkin sudah saatnya aku berdamai dengan hatiku sendiri’.
***
Selepas mandi Nayla menyantap sarapan yang telah disediakan ibunya.dia sudah bertekad bahwa hari ini adalah hari terakhirnya bersikap dingin pada sang ibu. Dia sudah mantap untuk menerima apa saja yang diminta oleh ibunya, termasuk mengikuti perjodohan yang selama ini sangat dibencinya. Bukan dia tidak mau beriktiar tapi dari senarai calon yang  dikenalkan oleh ibunya tak ada satupun yang memenuhi kriteria hatinya.
Piring dalam genggamannya kini sudah kosong, dan susu dalam gelas juga telah habis. Nayla menghela nafas panjang lalu kemudian menghembuskannya perlahan. Ada sedikit keraguan dalam dirinya tapi semua itu harus segera di tepisnya. Dia harus yakin bahwa ini adalah jalan yang terbaik.
Dia melangkah menuju tempat mencuci piring di dapur dan langkahnya terheni melihat sang ibu telah lebih dulu berdiri di dekat sinki, beliau sedang mencuci gelas teh, Nayla merasa ragu untuk mendekati ibunya dan hendak berbalik. Biarlah dia mencuci ini nanti, dia belum siap berbicara dengan ibunya.
“kamu mau kemana sayang?” pertanyaan itu sontak membuat langkah Nayla terhenti. Dia berbalik lalu kemudian tersenyum kepada ibunya, inilah saatnya dia kembali ke pelukan sang ibu. ‘kamu pasti bisa Nay, benar kata ustadzah kalau selama ini akulah yang menjauh dari ibu dan menciptakan perang dingin ini. Semua ini harus segera berakhir sebelum aku menyesali semuanya’. Nayla menyimpan peralatan kotor itu di sinki lalu kemudian mendekati ibunya.
“Boleh Nayla bicara dengan ibu?” tanyanya sedikit ragu. Me;ihat keraguan sang anak ibu langsung mendekati anaknya dan merangkul anaknya.
“sejak kapan seorang anak harus meminta ijin terlebih dahulu untuk berbicara dengan ibunya. Atau kamu memang terbiasa harus membuat janji terlebih dahulu untuk berbicara dengan seseorang?” pertanyaan yag lembut namun mampu memukul keras perasaan Nayla, pertanyaan itu seolah memang sengaja diucapkan untuk menakutinya.

***
“ibu, Nayla minta maaf sudah mengecewakan ibu, Nayla minta maaf karena selalu membuat ibu marah, kesal, bahkan Nay sering sekali membuat Ibu menangis karena sikap Nay. Nayla selalu membantah ibu, Nay berkata kasar pada ibu, Nay juga selalu meninggalkan ibu, bahkan di saat ibu membutuhkan Nayla... Nay minta maaf, Nay tidak bisa membahagiakan Ibu, maaf jika Nay tidak bisa membuat ibu selalu tersenyum, dan maaf jika Nayla belum bisa nepatin janji Nay sama Ibu... Nay minta maaf bu.. Nay mohon ampun sama ibu ... Nay ... Nay” kata-kata Nayla semakin tersendat oleh air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir, terbayang kembali segala dosa yang telah dilakukannya pada sang ibu. Semua itu tergambar jelas di pelupuk matanya seperti sebuah rekaman yang tak bisa untuk dia hentikan. Dalam bayangannya tergambar jelas bagaimana sikapnya selama ini pada sang ibu, saat dia membantah ibunya, mengabaikan permintaannya, membentaknya, bahkan mencibir setiap ucapannya. Dia juga teringat akan senyum sinis yang selalu dia sematkan setiap kali ibunya membahas tentang pernikahan.
“Nay, bukan anak yang baik untuk ibu. Nay durhaka sama ibu. Nay tidak pantas jadi anak ibu. Nay mohon ampun bu” Tangis semakin menjadi bahkan kini tangannya sudah menggenggam erat tangan ibunya dan sesekali menciumnya. Dia masih berusaha untuk menghentikan tangisnya tapi dosa-dosanya pada sang ibu membuatnya tidak bisa berhenti. Terlalu banyak dosa yang telah dia lakukan, bahkan entah beratus ribu kesalahan yang dia buat.
“Nayla, peluk ibu sayang” tanpa berkata apa-apa Nayla langsung memeluk sang ibu, begitu hangat dan menenangkan tapi kenapa baru sekarang dia merasakannya. Kemana perasaan ini saat dulu ibunya memluknya. Kenapa dulu dia selalu merasa kesal saat ibu memeluknya seperti ini.
“Nayla jangan nangis ya sayang. Ibu udah maafin Nayla bahkan sebelum Nayla melakukan kesalahan. Ibu tahu semua itu Nayla lakukan karena Nayla sayang kan sama ibu. Nayla tahu, Nayla adalah anugerah terindah untuk ibu. Nayla anak kebanggaan ibu, Nayla adalah sumber kebahagiaan ibu. Ibu tahu selama ini Nayla selalu berusaha untuk menyenangkan hati ibu kan, itu cukup buat ibu. Tangisan ibu adalah tangisan bahagia karena ibu memiliki anak yang baik seperti Nayla” ucap ibunya parau, Nayla semakin mengeratkan pelukannya dia tahu ini adalah pelukan terakhirnya, dan dia tidak mau melepaskannya begitu saja.
“tapi Nayla sudah mengecewakan ibu, Nayla belum bisa nepatin janji Nayla sama Ibu” tangisannya semakin menjadi tatkala sang ibu melepaskan pelukannya.
“Nayla pandang ibu sayang” ibu mengangkat wajah anak perempuannya. “saat Nayla berjanji sama ibu, ibu yakin kalau Nayla pasti akan menepatinya. Jika memang saat ini Nayla belum menapatinya itu bukan salah Nayla. Itu takdir Allah swt. Dia pasti memiliki rencana lain buat Nayla, rencana yang mungkin jauh lebih indah dari apa yang telah Nayla lewatkan sebelumnya. Ibu sudah ikhlas nak, Ibu sadar kalau semua itu adalah kehendak-Nya kita sebagai manusia tidak bisa mengubah apa-apa ketetapan-Nya. Dalam do’a ibu, ibu selalu berdo’a untuk kebahagiaan anak-anak ibu. Ibu selalu berdo’a untuk kebahagiaan kalian dan segala yang terbaik untuk kalian. Dan ibu juga selalu berdo’a agar pilihan Nayla nanti adalah pilihan terbaik di mata Allah. Dan jika memang ibu tidak diijinkan untuk melihatnya disini maka ibu akan melihatnya disana di dunia keabadian. Ibu Ikhlas nak” nayla kembali memeluk ibunya, dia tidak peduli lagi dengan airmatanya yang sudah mengering, atau bajunya yang sudah basah dengan air mata tapi yang dia tahu adalah dia beruntung memiliki ibu yang selalu menyayanginya.
“sudahlah nak. Jangan menangis lagi sayang. Mana Nayla yang ibu kenal, mana Nayla yang kuat dan tegar,  mana Nayla yang selalu tersenyum, ceria dan bersemangat. Ibu butuh Nayla yang seperti itu bukan Nayla yang lemah dan cengeng” ucapnya melepaskan pelukan Nayla, dia kembali meanmandang wajah anaknya dan menautkan kedua ibu jarinya di sudut bibi Nayla menariknya agar terbentuk sebuah senyuman.
“tersenyum ya sayang, ibu suka ngeliat senyuman kamu. setelah ini kamu harus berjanji sama ibu untuk tetap tersenyum ya, nak. Jangan pernah menangis seperti ini lagi, Ibu lebih suka dengan senyuman Nay bukan air mata Nay. Ibu pengen senyuman Nay ini akan menjadi teman bagi ayah nanti, menjadi penghibur untuk ayah dan mengobati segala sepi dan kerinduan ayah. Ibu titip ayah ya sayang, jaga dia dan jangan pernah biarkan dia menangis lagi. Ibu tidak mau melihat ayah menangis lagi, karena ayah kamu akan terlihat jelek saat menangis” itulah amanat terakhir ibu kepada Nayla lkarena setelah kalimat itu hanya kalimat syahadat yang terucap dari mulut. Sebelum akhirnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir dan merungkai pelukan Nayla.
Tetesan penyesalan itu kembali hadir di setiap malam yang dilaluinya, malam-malam yang dia lalui sendiri setelah kematian sang ibu. Kini sudah tidak ada lagi ocehan sang ibu, tidak ada lagi kekesalan saat dia pulang malam dan tidak ada lagi nasihat panjang yang selalu diucapkan ibunya saat dia pulang malam atau bangun terlambat. Meski sudah 1 tahun tapi semuanya terasa begitu cepat, bahkan terlalu cepat untuk menghapus rasa bersalahnya.
“kamu menangis lagi sayang” suara serak itu membangunkan Nayla dari lamunannya, membawanya kembali pada kenyataan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Dia lebih selesa saat membayangkan keberadaan ibunya disisinya. Nayla menoleh ke pada ayahnya dan tersenyum. Bukan ayah tidak tahu dengan perasaan anaknya tapi dia menghargai usaha sang anak untuk memenuhi janji pada istrinya. Selama satu tahun ini dia memang selalu melihat senyuman Nayla. Tapi beliau tahu bahwa senyuman itu hanya sebatas janji bukan sebuah ketulusan.
“Nay, rindu ibu?” tanya ayah, beliau duduk di samping Nayla dan memandang wajah anakanya. Masih terdapat sisa tangisan disana, air mata yang tidak terhapus sempurna itu terlihat begitu saja dimatanya.
“Ibu adalah orang yang paling Nay cintai di dunia ini. jika ayah bertanya apa Nay rindu ibu? Tentu saja Nay merindukannya, Nay rindu senyuman ibu, belaian ibu dan juga pelukan ibu. Nay juga rindu nasihat ibu, bahkan Nay rindu dengan ocehan ibu” Nayla tersenyum ke arah luar balkon.
Tentu saja dia sangat merindukan sang ibu. Tiada yang mampu menggantikan posisi sang ibu dalam hatinya karena sang ibu adalah satu-satunya permata kehidupan yang tak akan pernah ada yang menggantikan keindahannya. Ketulusan dan kasih sayang sang ibu adalah sumber semangat dan kehidupannya dalam menjalani kehidupannya. Nayla sadar kalau semua titu tak akan pernah bisa dia balas meski dia menghadiahkan gunung emas untuk sang ibu.
“bu. Tak terasa sudah satu tahun ibu pergi, meninggalkan Nayla dan semua peyesalan ini. Bu, besok Nayla akan menikah bu. Setelah penantian panjang ahirnya Allah mempertemukan Nayla dengan imam Nayla bu. Bu, senadainya ibu ada disini mungkin sekarang Nayla akan melihat senyuman ibu. Nayla juga akan mendengarkan nasihat-nasihat ibu. Seandainya ibu ada disini mungkin Nayla bisa memeluk ibu dan mencurahkan segala kegelisahan Nayla. Nayla gugup bu, Nayla takut. Nayla takut tidak bisa menjadi seorang isteri dan ibu yang baik. Nayla takut tidak bisa seperti ibu yang selalu melakukan apa saja untuk ayah dan kami anak ibu. tapi ibu jangan khawatir, Nayla akan berusaha untuk menjadi isteri yang baik dan taat pada suami seperti apa yang ibu katakan pada Nayla. Bu, terima kasih telah melahirkan Nayla, memberikan Nayla kesempatan untuk menghirup dan melihat indahnya dunia. Terima kasih karena membesarkan Nayla dengan penuh kasih sayang, terima kasih karena ibu memberi kesempatan kepada Nayla untuk menjadi anak dari wanita hebat seperti ibu. terima kasih untuk kasih sayang dan ketulusan yang selalu ibu berkan dalam setiap hembusan nafas ibu, terima kasih untuk do’a yang tiada pernah berhenti kau lafazkan untuk kami anakmu. Tiada apa yang dapat Nayla berikan selain lantunan ayat suci ini untuk ibu. Hanya do’a tulus berharap ibu akan tenang dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Semoga Allah menempatkan ibu bersama golongan orang-orang yang  sholeh”

*** 

Jumat, 12 Januari 2018

Jawaban yang Ku Nanti

Hari ini aku melihatmu duduk disana, di tempat yang menjadi kenangan indah kita berdua. Wajahmu tampak gelisah dan sedih. Raut wajah yang bahkan membuat aku merasa kehilanganmu. Kemana wajah ceria itu, kemana senyuman itu, dan kemana tawa yang selalu hadir saat kau menceritakannya.
Tahukah kamu aku lebih suka melihatmu seperti itu dibanding melihatmu seperti ini, rasanya sangat menyakitkan. Bahkan lebih sakit dibanding dengan rasa sakit yang timbul karena aku cemburu padamu. Lebih baik aku melihatmu bahagia karena dia, karena setidaknya itu bisa membuatku sedikit lebih tenang. di banding dengan melihatmu bersedih karena diriku, ini membuatku merasa bersalah, sangat bersalah. Sebegitu jahatnya kah diriku hingga menghilangkan semua kebahagiaanmu.
"sebegitu jahatkah aku, hingga setiap kamu berada disini kau selalu bersedih" tanyaku saat mendekati mu. Namun kamu hanya menunduk dan beranjak, melangkah pergi menjauhiku.
"aku mohon, lupakan semuanya. Aku mohon sama kamu agar tidak bersedih, hatiku sakit melihatmu seperti ini" ucapku lagi. Kamu hanya berhenti sesaat kemudian menoleh, aku berharap kamu akan mengucapkan sesuatu. Tapi ternyata tidak, kau kembali berpaling dan pergi meninggalkan ku sendiri.
Kini aku duduk sendiri di tempat yang sama seperti tadi dirimu. Aku masih berharap kamu akan kembali dan memaafkan semua kesalahanku. Air mata ini tidak dapat ku tahan lagi, semua mengalir begitu saja membasahi pipi. Aku tahu ini semua salahku, aku yang memulai nya terlebih dahulu tapi aku tidak pernah berfikir kalau kamu akan bersedih karena ini.
Aku pikir kamu sudah bahagia bersamanya, aku pikir kamu sudah melupakan aku dan semua kesalahanku. Aku pikir senyuman itu akan tetap ada di manapun kamu berada, termasuk di tempat ini. kamu pernah berkata kalau bersedih di tempat ini itu artinya kamu benar-benar telah kehilangan cintamu dan kamu belum bisa melupakan aku. Selama ini aku berfikir kamu mendiamkan aku karena kamu membenciku dan kamu sudah melupakan semua kenangan indah kita berdua. Tapi kini kenapa kamu kembali ke tempat ini dengan wajah seperti itu.
"kenapa kamu melakukan ini, kenapa? Kenapa kamu masih belum melupakan aku? Kenapa kamu menyiksaku dengan kesedihanmu? Kenapa?" ucapku masih terisak. Aku masih berharap kamu akan kembali dan berkata sesuatu padaku, tidak mendiamkan aku seperti saat ini.
"jangan menangis" ku dengar suara yang memang sudah tak asing bagiku, suara yang selama ini selalu aku rindukan, suara yang selama ini aku tunggu untuk berbicara padaku. Suara yang kini membawaku kembali pada kehidupan sadarku.
Aku mengangkat wajah ku perlahan, terselip rasa ragu pada diriku. Aku takut saat aku memandangnya ternyata yang ku lihat itu bukan wajahmu. Tapi semua keraguan ku sirna karena kini   aku melihat wajahmu, wajah yang sangat aku rindukan. Bahkan aku sangat merindukan senyuman itu. Tahukah kamu saat itu ingin rasanya aku menampar wajahku sendiri hanya untuk memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Tapi sapuan jarimu yang menghapus air mataku membuatku yakin kalau aku memang tidak bermimpi.
Jika kamu bertanya apa yang aku rasakan saat itu, pasti aku akan menjawab aku sangat bahagia karena kini aku bisa melihat kembali senyuman orang yang aku cintai tertuju untukku. Kamu menggenggam erat tangan ku, dan berkata
"jangan pernah meneteskan air mata hanya untuk sesuatu yang tak pasti. Air matamu terlalu berharga untuk hal yang sia-sia" kamu mengusap air mataku yang membasahi pipiki dengan ibu jarimu. Aku merasakan sebuah perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku. Ingin rasanya aku menahan tanganmu untuk tetap membelai pipiku dan memberikanku kehangatan.
Setelah memastikan aku tidak menangis lagi, kamu kembali beranjak dari tempatmu dan pergi menjauhi lagi.
"kenapa, kenapa kamu kembali jika hanya untuk menghapus air mataku.  Apa kamu tahu kenapa aku menangis, semua ini karena kamu? apa kamu mau menambah kan lagi hukuman untukku? Apa tidak cukup selama ini kamu menyiksaku dengan rasa cinta, rindu, cemburu dan rasa kehilanganku. Apa semua itu tidak cukup untuk membayar kesalahanku. Sehingga kamu menambahkan semua itu dengan rasa bersalah dan penyesalan? Apa kamu tahu, setiap kali aku melihatmu di tempat ini. aku selalu merasa seperti orang yang jahat, yang merebut kebahgiaanmu. Setiap kamu menunjukan wajah sedih itu, apa kamu tahu apa yang aku rasakan, rasanya jauh lebih menyakitkan. Terlebih dengan penyesalan yang selalu datang menghantuiku. Dan sekarang apa lagi, apa yang kamu inginkan? Apa ?" aku tak bisa lagi membendung air mataku, sudah saatnya dia tahu semua perasaanku. Dia berhenti sejenak lalu kemudian kembali melangkah.
"ternyata selama ini aku salah, aku salah mencintai orang. Aku kira aku mencintai orang tangguh dan hebat tapi ternyata aku malah mencintai lelaki pengecut dan tidak berperasaan sepertimu" teriakan ternyata berhasil membuatnya menoleh dan kembali menghampiriku. Dari wajahnya aku melihat kemarahan, rasa bersalah dan penyesalan. Dia menatapku tajam sebelum akhirnya meraihku ke dalam pelukannya.
"maafkan aku, man. Aku tidak bermaksud melakukannya. Semua itu hanya pelampiasan kekecewaanku padamu. Semua kata yang terucap setelah kita berpisah semuanya bohong aku hanya bersandiwara untuk bisa melupakanmu" ucapku menangis dalam pelukanmu. Aku merasakan kamu melonggarkan pelukanmu, dan satu tangan mu meraih wajahku untuk menaatapmu.
"aku yang seharusnya minta maaf. Selama ini aku menyembunyikan semuanya dari kamu. aku sudah tahu semuanya, sahabat kamu cerita ke aku. Itulah alasan aku kenapa aku bersedih setiap kali berada ditempat ini. aku sedih dan menyesal karena telah menyia-nyiakan cinta kamu dan aku menyesal telah mengakhiri hubungan kita. Tapi kini semuanya sudah terlambat. Dunia kita sudah berbeda sayang. Dan aku tak mungkin bisa kembali" aku tersenyum mendengar ucapanmu. Itulah kata-kata yang aku nantikan selama lebih dari 3 tahun ini. sebuah kemaafan dari bibirmu. Hatiku seperti tersiram oleh air yang segar dan menyejukan rasanya begitu menenangkan dan melegakan. Aku lega karena pada akhirnya kamu bisa memaafkan aku. Dan memberikan kembali senyuman itu. Kini pelukanmu bukan hanya melonggar tapi terlepas seutuhnya, kamu kembali menjauh dariku. Cahaya putih yang menyinari tubuhmu perlahan-lahan menenggelamkan ragamu dan membawa mu hilang bersamanya.

Kamu benar kita memang sudah tak mungkin bersama, kamu sudah pergi ke dunia yang berbeda. Dunia yang mungkin suatu saat nanti akan aku singgahi. Di sanalah kita akan kembali bersama. 

Rabu, 03 Januari 2018

Kenangan

Waktu berjalan begitu cepat, hingga aku tak bisa menikmati detik-detik yang berlalu. Rasanya terlalu sakit jika aku harus menikmatinya. Perasaan ini tertutup oleh satu rasa yang tak bisa ku hindari lagi. Panah cinta telah menancap dalam di hatiku. Tak ada yang bisa ku lakukan untuk mencabut panah itu. Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang timbul karena luka panah itu.
Hari itu aku kembali ke sini, sebuah tempat terindah yang pernah ku singgahi. Tempat dimana aku menghabiskan hampir seluruh masa remajaku. Ekspresi bahagia, sedih, kecewa, dan sakit tercipta disini. Namun aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupku, aku kehilangan sosok dirimu.
Kehilangan sosok yang dulu selalu ada menemaniku saat bahagia, sedih, kecewa, marah atau bahkan saat aku terluka. Kehilangan ini menyisakan rindu yang menyakitkan.
Ku genggam erat amplop biru berisikan surat. Goresan tinta yang ku susun sedemikian rupa agar kamu mau membacanya. Setiap kalimat yang tertulis menggambarkan rasa sesalku telah menyakitimu. Setiap kata yang tertulis disana, menggambarkan satu permintaan maafku, setiap huruf yang tertulis adalah ungkapan rasa cintaku padamu.
Aku tetap berdiri di tempat yang sama, dan akan tetap menunggumu sampai kamu datang. Angin mulai berhembus kencang, menerpa tubuh yang sudah tak berdaya lagi. Matahari mulai turun, memancarkan sinar jingga, menyilaukan mata yang kembali dibanjiri air mata. Berat bagiku mengungkapkan semuanya, tapi aku harus menngungkapkan semuanya sebelum terlambat. Aku menunggu mu hingga malam datang, tapi kamu tak datang. Mungkin memang semuanya sudah terlambat, atau mungkin kamu memang tak akan datang untuk memaafkan aku.
Aku memang tak pantas untuk dimaafkan, bodohnya aku berfikir kalau kamu akan datang ke tempat ini seperti apa yang pernah kita janjikan dulu. Luka yang ku berikan untukmu terlalu dalam. Bahkan jika aku yang merasakannya aku pun tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Sikap ku saat itu memang sangat keterlaluan. Hingga membuatmu merasa sangat jatuh dan terpuruk.
Tapi apa salah jika aku menyesali semuanya, salahkah aku jika aku ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Benang yang terputus memang tak bisa disambung lagi dengan sempurna, tancapan paku mungkin akan meninggalkan bekas, dan hati yang terluka tak mungkin bisa kembali seperti semula. Mungkin kamu tidak akan pernah bisa menerima aku lagi tapi aku mohon maafkan aku. Dan semua kebodohanku.
Malam telah tiba, matahari sudah kembali, menyisakan langit yang gelap. Aku masih tetap menunggumu, meski aku tak bisa menunggumu semalaman tapi aku akan berusaha untuk tetap menunggu sampai aku masih bisa menunggu. Membuktikan padamu bahwa aku sungguh-sungguh menyesali perbuatanku.

Dan tibalah aku pada batas waktuku, malam sudah semakin larut. Aku tidak mungkin membiarkan kedua orang tuaku gelisah menungguku. Aku harus pulang sayang, aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi. Tapi aku tinggalkan surat ini disini, berharap jika kamu datang nanti kamu akan membacanya. Dan jauh lebih berharap jika kamu sudi memaafkan aku.

Kala Hujan Menghapus Rindu

  Hujan kembali turun ... Mengingatkan ku padamu ... Pada semua harapan yang kau gantungkan Pada setiap tetesan air yang turun ...  ...