Senin, 22 Januari 2018

Menuju Swasembada Daging

Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang disusun untuk mengikuti program essai gagasan tertulis yang diadakan pada saat kegiatan penerimaan baru di kampus Universitas Padjadjaran. Tulisan ini merupakan pengalaman pertama saya dalam menuangkan ide menjadi sebuah tulisan ilmiah. 

“MENGUBAH ANGAN – ANGAN MENJADI KENYATAAN “
(MENUJU INDONESIA DENGAN SWASEMBADA DAGING)

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi negara importir berbagai jenis bahan pakan. Termasuk ternak sapi dan juga daging sapi. "Hingga akhir 2012 kebutuhan daging sebesar 1,9 kilogram. Tahun depan nilainya akan meningkat. Sehingga impor harus dilakukan," kata Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, Kamis (6/12). Untuk 2013, pemerintah telah menetapkan kuota impor daging sapi 15 persen dari total kebutuhan sebesar 500 ribu ton. 
Persoalan ketersediaan daging sapi masis sering dijadikan bahan polemik oleh sejumlah pihak, terutama dikaitkan dengan supply dan kebutuhan, termasuk menjelang lebaran tahun 2013. Sejak beberapa bulan terakhirpun, harga daging sapi masih diatas rata-rata normal atau mahal, apalagi dengan alasan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak(BBM).
 Pada bulan ramadhan tahun ini kebutuhan daging sapi semakin meningkat, sementara harga daging sapi lokal di pasaran masih diatas Rp 100.000,00/kg yaitu berkisar antara Rp 115.000,00 – Rp  120.000,00/kg. Dan untuk menstabilkan harga, lagi-lagi Indonesia harus mengimpor daging dan sapi dari Australia. Pemerintah mengimpor ratusan ton daging dengan harga yang lebih murah dan 1.478 ekor sapi siap potong dari Australia (Pikiran Rakyat, Juli 2013).
Haruskah Indonesia terus bergantung pada negara lain? Bukankah Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam? Bukankah negara Indonesia adalah negara agraris dengan luas lahan yang sangat luas? Jawabannya adalah TIDAK, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada negara lain. Sudah saatnya negara kita berdiri sendiri dengan SWASEMBADA DAGING.
Upaya peningkatan produksi ternak sapi potong dalam negeri terus diupayakan, sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap sapi potong dan daging sapi impor. Salah satu cara yang ditempuh, adalah perbaikan maupun peningkatan kemampuan usaha penggemukan peternak sapi potong skala rakyat.
Indonesia adalah negara agraris dengan luas wilayah yang sangat besar yakni 1.922.570 km2, dengan jumlah 17.508 pulau dari Sabang hingga Merauke dan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, negara dengan tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia dan beriklim tropis. Semua itu membuat Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, sangat berpotensi untuk mengembangkan potensi sumber daya hayati terutama sektor peternakan. Indonesia kaya akan bibit ternak, baik ternak asli Indonesia maupun hasil persilangan dengan ternak luar dan memiliki ciri khas tersendiri. Termasuk peternakan sapi potong.
Walaupun pertumbuhan populasi ternak terus meningkat dari tahun ke tahun, ternyata belum berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan keluarga petani. Hal ini diduga disebabkan karena sebagian besar peternak Indonesia bukan peternak komersil/skala ekonomis. 90% peternak di Indonesia merupakan peternak tradisional dimana mereka beranggapan bahwa beternak dijadikan sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan dan sebagian lainnya adalah pengusaha penggemukan (feedloter). Metode pengembangan pembangunan peternakan sapi potong ini dilakukan dengan cara
1.  Mengubah Paradigma Ternak sebagai Tabungan menjadi Ladang Komersial
Sebagian besar peternak Indonesia adalah peternak tradisional dengan jumlah populasi ternak yang sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka juga beranggapan bahwa ternak hanyalah sebagai tabungan bukan sumber pendapatan. Dimana mereka menjualnya hanya saat mereka membutuhkan, sebagian besar dari mereka menjualnya pada saat menjelang lebaran dan awal masuk sekolah. Pemikiran seperti inilah yang harus kita ubah demi terciptanya Swasembada Daging di negara tercinta ini.
Salah satu upaya mengubah pemikiran ini adalah dengan memberikan penyuluhan atau pendekatan kepada peternak untuk meningkatkan jumlah produksi mereka, meningkatkan populasi yang mereka miliki. Pendekatan yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan pemberitahuan tentang sistem penggemukan dan pemeliharaan sapi potong yang sistematis dan pengetahuan tentang prospek bisnis ternak sapi potong. Sehingga mereka bisa lebih tertarik untuk beternak sapi potong.
2.  Pengenalan kultur pengembangbiakan hewan dengan teknik yang lebih terarah
Peternak sering mengalami kesulitan mengembangbiakan ternaknya. Banyak dari mereka yang tidak tahu tentang bagaimana siklus produksi ternak sehingga ternak mereka tidak berproduksi dengan maksimal. Kondisi seperti ini bisa menjadi penghambat berkembangnya peternakan Indonesia.
Dalam hal ini pengenalan/sosialisasi mengenai tatacara perkembangbiakan, teknik penggemukan daging secara periodik dan juga siklus reproduksi ternak. Sosialisasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti penyuluhan, pelatihan untuk peternak tradisional, serta pendekatan secara langsung kepada peternak.
3.  Pengenalan mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan penghasilan
Banyak peternak yang mengeluh penghasilan mereka tidak cukup jika hanya mengandalkan pada ternak saja. Penghasilan mereka tidak terasa karena tidak ada pembukuan usaha yang baik. Mereka sering mencampurkan urusan usaha dengan urusan keluarga sehingga margin usaha terasa lebih berat.
Pengetahuan tentang pembukuan dan peningkatan mutu itulah yang seharusnya lebih ditekankan kepada para peternak kita. Sosialisasi tentang peningkatan mutu bisa kita lakukan kepada para ibu rumah tangga, daripada mereka menjadi buruh tani atau buruh cuci mereka bisa membuka usaha pengolahan daging. Sosialisasi mengenai pengetahuan ini bisa di lakukan dengan mengadakan perkumpulan ibu rumah tangga dengan satu pembicara, kumpulan secara berkala yang di langsung bimbing oleh fasilitator desa maupun dengan peminjaman modal dengan pengawasan khusus.
4.  Sosialisasi Dini tentang Peternakan untuk Generasi Muda
Pandangan peternakan itu menjijikan dan menakutkan bagi sebagian besar remaja dan generasi muda  yang harus diubah, melalui Sosialisasi Dini mengenai peternakan bisa membangun pemikiran bahwa memelihara sapi itu bukan hal yang menjijikan melainkan hal yang menyenangkan dan menambah wawasan baru. Karena pada dasarnya dengan beternak kita tak akan berhenti belajar, sebab setiap hari  permasalahan dalam ternak adalah ilmu baru untuk peternak.
Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara seminar ke sekolah-sekolah seperti SD, SMP, atau SMA. Dapat juga berupa pelatihan atau acara study tour ke perusahaan peternakan/dinas peternakan.
5.  Peningkatan Peran Pemerintah
Dalam upaya menuju Swasembada Daging peran pemerintah sangatlah penting. Karena dukungan dan kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh pada perkembangan peternakan sapi potong di Indonesia. Dalam hal ini pemerintah sebaiknya melakukan dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung peternak dalam negeri bukan hanya kebijakan mengenai impor yang hanya menguntungkan para eksportir.
     Seharusnya pemerintah melakukan hal-hal sbb :
  • Menciptakan kebijakan untuk meningkatkan daya saing
  • Peningakatan mutu produk
  • Kemudahan ijin usaha untuk home industri
  • Pembangunan insfrasktur, sarana maupun prasarana  untuk sosialisasi pengembangan peternakan sapi potong.
  • Fokus pada kebijakan pembangunan peternakan
  • Pendekatan agribisnis
  • Pengawasan secara khusus dan berkala terhadap penerima bantuan modal usaha sehingga kegiatan usaha dapat terpantau dan tidak terbengkalai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kala Hujan Menghapus Rindu

  Hujan kembali turun ... Mengingatkan ku padamu ... Pada semua harapan yang kau gantungkan Pada setiap tetesan air yang turun ...  ...