“MENGUBAH ANGAN – ANGAN MENJADI
KENYATAAN “
(MENUJU INDONESIA DENGAN SWASEMBADA
DAGING)
Indonesia
adalah salah satu negara yang menjadi negara importir berbagai jenis bahan
pakan. Termasuk ternak sapi dan juga daging sapi. "Hingga
akhir 2012 kebutuhan daging sebesar 1,9 kilogram. Tahun depan nilainya akan
meningkat. Sehingga impor harus dilakukan," kata Wakil Menteri
Pertanian, Rusman Heriawan, Kamis (6/12). Untuk 2013, pemerintah telah
menetapkan kuota impor daging sapi 15 persen dari total kebutuhan sebesar 500
ribu ton.
Persoalan
ketersediaan daging sapi masis sering dijadikan bahan polemik oleh sejumlah
pihak, terutama dikaitkan dengan supply dan kebutuhan, termasuk menjelang
lebaran tahun 2013. Sejak beberapa bulan terakhirpun, harga daging sapi masih
diatas rata-rata normal atau mahal, apalagi dengan alasan dampak kenaikan harga
bahan bakar minyak(BBM).
Pada bulan ramadhan tahun ini kebutuhan daging
sapi semakin meningkat, sementara harga daging sapi lokal di pasaran masih
diatas Rp 100.000,00/kg yaitu berkisar antara Rp 115.000,00 – Rp 120.000,00/kg. Dan untuk menstabilkan harga,
lagi-lagi Indonesia harus mengimpor daging dan sapi dari Australia. Pemerintah
mengimpor ratusan ton daging dengan harga yang lebih murah dan 1.478 ekor sapi
siap potong dari Australia (Pikiran Rakyat, Juli 2013).
Haruskah
Indonesia terus bergantung pada negara lain? Bukankah Indonesia merupakan
negara yang kaya dengan sumber daya alam? Bukankah negara Indonesia adalah
negara agraris dengan luas lahan yang sangat luas? Jawabannya adalah TIDAK,
Indonesia tidak bisa terus bergantung pada negara lain. Sudah saatnya negara
kita berdiri sendiri dengan SWASEMBADA DAGING.
Upaya
peningkatan produksi ternak sapi potong dalam negeri terus diupayakan, sebagai
upaya mengurangi ketergantungan terhadap sapi potong dan daging sapi impor.
Salah satu cara yang ditempuh, adalah perbaikan maupun peningkatan kemampuan
usaha penggemukan peternak sapi potong skala rakyat.
Indonesia
adalah negara agraris dengan luas wilayah yang sangat besar yakni 1.922.570 km2,
dengan jumlah 17.508 pulau dari Sabang hingga Merauke dan merupakan negara
kepulauan terbesar di dunia, negara dengan tingkat keanekaragaman hayati
terbesar kedua di dunia dan beriklim tropis. Semua itu membuat Indonesia adalah
negara yang kaya sumber daya alam, sangat berpotensi untuk mengembangkan
potensi sumber daya hayati terutama sektor peternakan. Indonesia kaya akan
bibit ternak, baik ternak asli Indonesia maupun hasil persilangan dengan ternak
luar dan memiliki ciri khas tersendiri. Termasuk peternakan sapi potong.
Walaupun
pertumbuhan populasi ternak terus meningkat dari tahun ke tahun, ternyata belum
berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan keluarga petani. Hal ini
diduga disebabkan karena
sebagian besar peternak Indonesia bukan peternak komersil/skala ekonomis.
90% peternak di Indonesia merupakan peternak tradisional dimana mereka
beranggapan bahwa beternak dijadikan sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan dan
sebagian lainnya adalah pengusaha penggemukan (feedloter). Metode pengembangan
pembangunan peternakan sapi potong ini dilakukan dengan cara
1. Mengubah
Paradigma Ternak sebagai Tabungan menjadi Ladang Komersial
Sebagian besar
peternak Indonesia adalah peternak tradisional dengan jumlah populasi ternak
yang sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka juga beranggapan bahwa ternak
hanyalah sebagai tabungan bukan sumber pendapatan. Dimana mereka menjualnya
hanya saat mereka membutuhkan, sebagian besar dari mereka menjualnya pada saat
menjelang lebaran dan awal masuk sekolah. Pemikiran seperti inilah yang harus
kita ubah demi terciptanya Swasembada Daging di negara tercinta ini.
Salah satu upaya
mengubah pemikiran ini adalah dengan memberikan penyuluhan atau pendekatan
kepada peternak untuk meningkatkan jumlah produksi mereka, meningkatkan
populasi yang mereka miliki. Pendekatan yang bisa kita lakukan adalah dengan
memberikan pemberitahuan tentang sistem penggemukan dan pemeliharaan sapi
potong yang sistematis dan pengetahuan tentang prospek bisnis ternak sapi
potong. Sehingga mereka bisa lebih tertarik untuk beternak sapi potong.
2. Pengenalan
kultur pengembangbiakan hewan dengan teknik yang lebih terarah
Peternak sering
mengalami kesulitan mengembangbiakan ternaknya. Banyak dari mereka yang tidak
tahu tentang bagaimana siklus produksi ternak sehingga ternak mereka tidak
berproduksi dengan maksimal. Kondisi seperti ini bisa menjadi penghambat
berkembangnya peternakan Indonesia.
Dalam hal ini
pengenalan/sosialisasi mengenai tatacara perkembangbiakan, teknik penggemukan
daging secara periodik dan juga siklus reproduksi ternak. Sosialisasi bisa
dilakukan dengan berbagai cara, seperti penyuluhan, pelatihan untuk peternak
tradisional, serta pendekatan secara langsung kepada peternak.
3. Pengenalan
mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan penghasilan
Banyak peternak
yang mengeluh penghasilan mereka tidak cukup jika hanya mengandalkan pada
ternak saja. Penghasilan mereka tidak terasa karena tidak ada pembukuan usaha
yang baik. Mereka sering mencampurkan urusan usaha dengan urusan keluarga
sehingga margin usaha terasa lebih berat.
Pengetahuan
tentang pembukuan dan peningkatan mutu itulah yang seharusnya lebih ditekankan
kepada para peternak kita. Sosialisasi tentang peningkatan mutu bisa kita
lakukan kepada para ibu rumah tangga, daripada mereka menjadi buruh tani atau
buruh cuci mereka bisa membuka usaha pengolahan daging. Sosialisasi mengenai
pengetahuan ini bisa di lakukan dengan mengadakan perkumpulan ibu rumah tangga
dengan satu pembicara, kumpulan secara berkala yang di langsung bimbing oleh
fasilitator desa maupun dengan peminjaman modal dengan pengawasan khusus.
4. Sosialisasi
Dini tentang Peternakan untuk Generasi Muda
Pandangan peternakan itu menjijikan dan menakutkan
bagi sebagian besar remaja dan generasi muda yang harus diubah, melalui Sosialisasi Dini
mengenai peternakan bisa membangun pemikiran bahwa memelihara sapi itu bukan
hal yang menjijikan melainkan hal yang menyenangkan dan menambah wawasan baru.
Karena pada dasarnya dengan beternak kita tak akan berhenti belajar, sebab
setiap hari permasalahan dalam ternak
adalah ilmu baru untuk peternak.
Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara seminar ke
sekolah-sekolah seperti SD, SMP, atau SMA. Dapat juga berupa pelatihan atau
acara study tour ke perusahaan peternakan/dinas peternakan.
5. Peningkatan
Peran Pemerintah
Dalam upaya menuju Swasembada Daging peran
pemerintah sangatlah penting. Karena dukungan dan kebijakan pemerintah akan
sangat berpengaruh pada perkembangan peternakan sapi potong di Indonesia. Dalam
hal ini pemerintah sebaiknya melakukan dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan
yang mendukung peternak dalam negeri bukan hanya kebijakan mengenai impor yang
hanya menguntungkan para eksportir.
Seharusnya pemerintah melakukan hal-hal sbb :
- Menciptakan kebijakan untuk meningkatkan daya saing
- Peningakatan mutu produk
- Kemudahan ijin usaha untuk home industri
- Pembangunan insfrasktur, sarana maupun prasarana untuk sosialisasi pengembangan peternakan sapi potong.
- Fokus pada kebijakan pembangunan peternakan
- Pendekatan agribisnis
- Pengawasan secara khusus dan berkala terhadap penerima bantuan modal usaha sehingga kegiatan usaha dapat terpantau dan tidak terbengkalai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar