Kamis, 22 Oktober 2020

Kala Hujan Menghapus Rindu

 

Hujan kembali turun ...

Mengingatkan ku padamu ...

Pada semua harapan yang kau gantungkan

Pada setiap tetesan air yang turun ...

 

Hujan ...

Mengingatkan ku pada senyumanmu ...

Yang terukir indah di wajahmu yang basah ...

Membuat air mata ini kembali mengalir

Bersamaan dengan turunnya air hujan ...

 

Seandainya hari masih terang,

Ingin rasanya aku berlari menembus derasnya hujan

Membiarkan tubuh ini turut tersiram bersama dengan tanah...

 

Ingatkah engkau ....

Dulu engkau sangat menyukai hujan, engkau selalu menantikannya.

Bahkan kau selalu mengajakku untuk merasakannya...

bersama-sama menembus derasnya hujan

Berlari, menari, bahkan bernyanyi ...

Kau selalu menorehkan kebahagiaan bersama hujan ...

"kamu tahu kenapa aku sangat menyukai hujan" bisikmu

Aku hanya menggeleng ... Dan kamu bilang

"hujan memberikan aku sebuah harapan. Harapan untuk tetap bahagia"

 

Dulu saat aku sakit, dan aku tak bisa menikmati hujan ...

Kau menyuruhku untuk melihat ke luar jendela

Saat itu aku melihatmu di luar terguyur oleh hujan

Kau merentangkan tanganmu dan menatapkan menatap langit

Lantas kau berteriak .... Aku mencintai mu ….

 

Tapi kini kau telah pergi,

Meninggalkan aku dan kenangan kita.

Kau pergi jauh, sangat jauh hingga aku tak bisa menyusulmu.

Kau meninggalkan aku tanpa berfikir untuk kembali.

Kau meninggalkan aku bersama hujan ini

 

Kini aku hanya bisa memandang hujan,

Menatap setiap tetesan air yang turun dalam kegelapan

Memejamkan mataku dan mendengar setiap alunan suara yang tercipta karena hujan

Merasakan kehadiranmu disampingku

Dan berkata

"aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu"

 

"suatu saat nanti jika kamu melihat hujan dan kamu merindukan aku. Lakukanlah seperti apa yang ku lakukan saat ini. rasakanlah setiap tetesan air yang menyentuh tubuhmu. Maka kamu akan merasakan kehadiranku disisimu. Tapi jika kamu sakit seperti saat ini, pandangalah hujan itu. Pejamkanlah matamu, dengarkan lah suara alam ini. maka kamu akan merasakan kalau aku ada di hadapan mu saat itu. Dan dengarkan bisikan ini, aku mencintaimu sepenuh hatiku"

Selasa, 20 Oktober 2020

Cinta ku tak Bisa Membencimu

Bagaikan petir yang menyambarku saat panas terik,,, kau hancurkan segala rasa cintaku dengan kata perpisahanmu. Air mataku tak mampu aku bendung lagi, semuanya mengalir begitu saja membasahi pipiku. Hatiku hancur seiring dengan hancurnya kepercayaanku padamu. mengapa kamu mempermainkan perasaanku, mengapa kau mengakhiri semuanya disaat rasa cintaku padamu begitu dalam. Aku tak bisa marah padamu, meski rasanya hatiku ini ingin sekali memakimu. Makian terlalu indah untukmu.

Ingin rasanya aku melampiaskan kemarahanku dengan berteiak padamu, tapi aku tak mungkin memaki. susunan kalimat yang terangkai begitu indah dan menghancurkan segala harapanku.

Aku tak bisa melampiaskan semua kemarahan, kekecewaan dan kekesalanku secara langsung padamu. Hingga akhirnya aku memilih jalan ini.

Ingin rasanya ku menghukum mu dengan cara yang indah namun terasa sangat menyakitkan. Tapi kenapa justru aku merasa lebih sakit dan tersiksa.

Ingin rasanya aku menghukummu dengan rasa kehilangan, kehilangan cinta yang begitu tulus mencintaimu. Tapi mengapa justru aku yang merasa kehilangan.

Ingin rasanya aku menghukummu dengan rasa cemburu, melihatku dengan yang lain. tapi kenapa justru saat aku bersama mereka aku merasa sakit.

Katakan padaku, apa aku salah? Apa aku salah ingin menghukummu? Orang yang aku cintai tapi justru kamu orang yang melukaiku.

Man, kenapa kau melakukan ini padaku? Apa sebegitu hinanya cintaku hingga kamu melakukan ini semua padaku. Kau mempermainkanku dan juga cintaku.

Saat aku mulai berusaha untuk menikmati hidupku tanpa dirimu, kenapa kamu kembali padaku. Kenapa kamu meminta aku untuk kembali ....

Tahukah kamu saat kamu memutuskan hubungan kita, saat itu pula aku berjanji untuk tidak kembali padamu. Tahukah kamu saat kamu mengancam akan mengakhiri hidupmu jika aku tidak kembali, apa yang aku rasakan.

Rasanya begitu menyakitkan, hingga karena rasa sakit itu aku tak mampu lagi untuk melihatmu. Aku tidak ingin menemui bukan karena aku membencimu tapi aku tidak sanggup melihat wajahmu. Rasanya begitu menyakitkan, Man. Rasa cintaku yang begitu dalam untukmu membuat ku tak bisa bertahan disisimu.

Tahukah kamu saat memperlihatkan pisau itu, hati ini yang tersayat. Andai saja aku bisa memilih antara hati dan tanganku, aku akan membiarkan tangan ini yang tersayat.

Maafkan aku karena tidak bisa menerima, dan maafkan aku karena aku lebih memilih untuk menggenggam tangannya di banding kembali padamu.

Aku tersiksa, Man. Sangat tersiksa...

Dan aku lebih tersiksa lagi saat tahu kamu pergi... Kamu pergi meninggalkan aku selamanya...

Kenapa Man, kenapa kamu menghukum aku lagi... Atau mungkin ini cara yang kamu berikan untuk membalasku ... Rasanya terlalu menyakitkan Man ...

Tak cukup cukupkah semua hukuman itu, tak cukupkah rasa sakit itu hingga kini kamu memberi aku hukuman berikutnya ... Kamu menyiksa aku dengan rasa bersalahku padamu... Rasa bersalah yang bahkan sampai ini belum terhapus, menyisakan sebuah penyesalan yang mungkin akan tertanam seumur hidupku.

Man .... Apa tidak bisa kamu menghukumku dengan cara lain, bukan dengan cara seperti ini... Kenapa sosokmu begitu kuat dalam ingatanku, mengapa aku tak bisa membencimu??

mengapa hanya kebaikanmu, mengapa hanya kenangan indah kita yang tersimpan dalam ingatanku, membuatku buta akan sosok indah lainnya.

Man .... Kenapa aku tidak bisa membencimu, kenapa aku tidak bisa menghapus cinta ini, kenapa? Aku ingin menjalani kehidupanku dengan yang lain, tidak hanya dengan belenggu cintamu. Tidak hanya dengan penyesalan,

Penyesalan ini membuatku tak bisa merasakan cinta yang lain ....

Maafkan aku dan semua kesalahanku. Bukakanlah hati ini, Hati yang membeku karena cintamu ...

Kala Hujan Menghapus Rindu

  Hujan kembali turun ... Mengingatkan ku padamu ... Pada semua harapan yang kau gantungkan Pada setiap tetesan air yang turun ...  ...