Hari ini aku melihatmu duduk disana, di tempat yang menjadi
kenangan indah kita berdua. Wajahmu tampak gelisah dan sedih. Raut wajah yang
bahkan membuat aku merasa kehilanganmu. Kemana wajah ceria itu, kemana senyuman
itu, dan kemana tawa yang selalu hadir saat kau menceritakannya.
Tahukah kamu aku lebih suka melihatmu seperti itu dibanding
melihatmu seperti ini, rasanya sangat menyakitkan. Bahkan lebih sakit dibanding
dengan rasa sakit yang timbul karena aku cemburu padamu. Lebih baik aku
melihatmu bahagia karena dia, karena setidaknya itu bisa membuatku sedikit
lebih tenang. di banding dengan melihatmu bersedih karena diriku, ini membuatku
merasa bersalah, sangat bersalah. Sebegitu jahatnya kah diriku hingga
menghilangkan semua kebahagiaanmu.
"sebegitu jahatkah aku, hingga setiap kamu berada disini kau
selalu bersedih" tanyaku saat mendekati mu. Namun kamu hanya menunduk dan
beranjak, melangkah pergi menjauhiku.
"aku mohon, lupakan semuanya. Aku mohon sama kamu agar tidak
bersedih, hatiku sakit melihatmu seperti ini" ucapku lagi. Kamu hanya
berhenti sesaat kemudian menoleh, aku berharap kamu akan mengucapkan sesuatu.
Tapi ternyata tidak, kau kembali berpaling dan pergi meninggalkan ku sendiri.
Kini aku duduk sendiri di tempat yang sama seperti tadi dirimu.
Aku masih berharap kamu akan kembali dan memaafkan semua kesalahanku. Air mata
ini tidak dapat ku tahan lagi, semua mengalir begitu saja membasahi pipi. Aku
tahu ini semua salahku, aku yang memulai nya terlebih dahulu tapi aku tidak
pernah berfikir kalau kamu akan bersedih karena ini.
Aku pikir kamu sudah bahagia bersamanya, aku pikir kamu sudah
melupakan aku dan semua kesalahanku. Aku pikir senyuman itu akan tetap ada di
manapun kamu berada, termasuk di tempat ini. kamu pernah berkata kalau bersedih
di tempat ini itu artinya kamu benar-benar telah kehilangan cintamu dan kamu
belum bisa melupakan aku. Selama ini aku berfikir kamu mendiamkan aku karena
kamu membenciku dan kamu sudah melupakan semua kenangan indah kita berdua. Tapi
kini kenapa kamu kembali ke tempat ini dengan wajah seperti itu.
"kenapa kamu melakukan ini, kenapa? Kenapa kamu masih belum
melupakan aku? Kenapa kamu menyiksaku dengan kesedihanmu? Kenapa?" ucapku
masih terisak. Aku masih berharap kamu akan kembali dan berkata sesuatu padaku,
tidak mendiamkan aku seperti saat ini.
"jangan menangis" ku dengar suara yang memang sudah tak
asing bagiku, suara yang selama ini selalu aku rindukan, suara yang selama ini
aku tunggu untuk berbicara padaku. Suara yang kini membawaku kembali pada
kehidupan sadarku.
Aku mengangkat wajah ku perlahan, terselip rasa ragu pada diriku.
Aku takut saat aku memandangnya ternyata yang ku lihat itu bukan wajahmu. Tapi
semua keraguan ku sirna karena kini aku
melihat wajahmu, wajah yang sangat aku rindukan. Bahkan aku sangat merindukan
senyuman itu. Tahukah kamu saat itu ingin rasanya aku menampar wajahku sendiri
hanya untuk memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Tapi sapuan jarimu yang
menghapus air mataku membuatku yakin kalau aku memang tidak bermimpi.
Jika kamu bertanya apa yang aku rasakan saat itu, pasti aku akan
menjawab aku sangat bahagia karena kini aku bisa melihat kembali senyuman orang
yang aku cintai tertuju untukku. Kamu menggenggam erat tangan ku, dan berkata
"jangan pernah meneteskan air mata hanya untuk sesuatu yang
tak pasti. Air matamu terlalu berharga untuk hal yang sia-sia" kamu
mengusap air mataku yang membasahi pipiki dengan ibu jarimu. Aku merasakan
sebuah perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku. Ingin rasanya aku
menahan tanganmu untuk tetap membelai pipiku dan memberikanku kehangatan.
Setelah memastikan aku tidak menangis lagi, kamu kembali beranjak
dari tempatmu dan pergi menjauhi lagi.
"kenapa, kenapa kamu kembali jika hanya untuk menghapus air
mataku. Apa kamu tahu kenapa aku
menangis, semua ini karena kamu? apa kamu mau menambah kan lagi hukuman
untukku? Apa tidak cukup selama ini kamu menyiksaku dengan rasa cinta, rindu,
cemburu dan rasa kehilanganku. Apa semua itu tidak cukup untuk membayar
kesalahanku. Sehingga kamu menambahkan semua itu dengan rasa bersalah dan
penyesalan? Apa kamu tahu, setiap kali aku melihatmu di tempat ini. aku selalu
merasa seperti orang yang jahat, yang merebut kebahgiaanmu. Setiap kamu
menunjukan wajah sedih itu, apa kamu tahu apa yang aku rasakan, rasanya jauh
lebih menyakitkan. Terlebih dengan penyesalan yang selalu datang menghantuiku.
Dan sekarang apa lagi, apa yang kamu inginkan? Apa ?" aku tak bisa lagi
membendung air mataku, sudah saatnya dia tahu semua perasaanku. Dia berhenti
sejenak lalu kemudian kembali melangkah.
"ternyata selama ini aku salah, aku salah mencintai orang.
Aku kira aku mencintai orang tangguh dan hebat tapi ternyata aku malah
mencintai lelaki pengecut dan tidak berperasaan sepertimu" teriakan
ternyata berhasil membuatnya menoleh dan kembali menghampiriku. Dari wajahnya
aku melihat kemarahan, rasa bersalah dan penyesalan. Dia menatapku tajam
sebelum akhirnya meraihku ke dalam pelukannya.
"maafkan aku, man. Aku tidak bermaksud melakukannya. Semua
itu hanya pelampiasan kekecewaanku padamu. Semua kata yang terucap setelah kita
berpisah semuanya bohong aku hanya bersandiwara untuk bisa melupakanmu"
ucapku menangis dalam pelukanmu. Aku merasakan kamu melonggarkan pelukanmu, dan
satu tangan mu meraih wajahku untuk menaatapmu.
"aku yang seharusnya minta maaf. Selama ini aku
menyembunyikan semuanya dari kamu. aku sudah tahu semuanya, sahabat kamu cerita
ke aku. Itulah alasan aku kenapa aku bersedih setiap kali berada ditempat ini.
aku sedih dan menyesal karena telah menyia-nyiakan cinta kamu dan aku menyesal
telah mengakhiri hubungan kita. Tapi kini semuanya sudah terlambat. Dunia kita
sudah berbeda sayang. Dan aku tak mungkin bisa kembali" aku tersenyum
mendengar ucapanmu. Itulah kata-kata yang aku nantikan selama lebih dari 3
tahun ini. sebuah kemaafan dari bibirmu. Hatiku seperti tersiram oleh air yang
segar dan menyejukan rasanya begitu menenangkan dan melegakan. Aku lega karena
pada akhirnya kamu bisa memaafkan aku. Dan memberikan kembali senyuman itu.
Kini pelukanmu bukan hanya melonggar tapi terlepas seutuhnya, kamu kembali
menjauh dariku. Cahaya putih yang menyinari tubuhmu perlahan-lahan
menenggelamkan ragamu dan membawa mu hilang bersamanya.
Kamu benar kita memang sudah tak mungkin bersama, kamu sudah pergi
ke dunia yang berbeda. Dunia yang mungkin suatu saat nanti akan aku singgahi.
Di sanalah kita akan kembali bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar