Rabu, 03 Januari 2018

Kenangan

Waktu berjalan begitu cepat, hingga aku tak bisa menikmati detik-detik yang berlalu. Rasanya terlalu sakit jika aku harus menikmatinya. Perasaan ini tertutup oleh satu rasa yang tak bisa ku hindari lagi. Panah cinta telah menancap dalam di hatiku. Tak ada yang bisa ku lakukan untuk mencabut panah itu. Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang timbul karena luka panah itu.
Hari itu aku kembali ke sini, sebuah tempat terindah yang pernah ku singgahi. Tempat dimana aku menghabiskan hampir seluruh masa remajaku. Ekspresi bahagia, sedih, kecewa, dan sakit tercipta disini. Namun aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupku, aku kehilangan sosok dirimu.
Kehilangan sosok yang dulu selalu ada menemaniku saat bahagia, sedih, kecewa, marah atau bahkan saat aku terluka. Kehilangan ini menyisakan rindu yang menyakitkan.
Ku genggam erat amplop biru berisikan surat. Goresan tinta yang ku susun sedemikian rupa agar kamu mau membacanya. Setiap kalimat yang tertulis menggambarkan rasa sesalku telah menyakitimu. Setiap kata yang tertulis disana, menggambarkan satu permintaan maafku, setiap huruf yang tertulis adalah ungkapan rasa cintaku padamu.
Aku tetap berdiri di tempat yang sama, dan akan tetap menunggumu sampai kamu datang. Angin mulai berhembus kencang, menerpa tubuh yang sudah tak berdaya lagi. Matahari mulai turun, memancarkan sinar jingga, menyilaukan mata yang kembali dibanjiri air mata. Berat bagiku mengungkapkan semuanya, tapi aku harus menngungkapkan semuanya sebelum terlambat. Aku menunggu mu hingga malam datang, tapi kamu tak datang. Mungkin memang semuanya sudah terlambat, atau mungkin kamu memang tak akan datang untuk memaafkan aku.
Aku memang tak pantas untuk dimaafkan, bodohnya aku berfikir kalau kamu akan datang ke tempat ini seperti apa yang pernah kita janjikan dulu. Luka yang ku berikan untukmu terlalu dalam. Bahkan jika aku yang merasakannya aku pun tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Sikap ku saat itu memang sangat keterlaluan. Hingga membuatmu merasa sangat jatuh dan terpuruk.
Tapi apa salah jika aku menyesali semuanya, salahkah aku jika aku ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Benang yang terputus memang tak bisa disambung lagi dengan sempurna, tancapan paku mungkin akan meninggalkan bekas, dan hati yang terluka tak mungkin bisa kembali seperti semula. Mungkin kamu tidak akan pernah bisa menerima aku lagi tapi aku mohon maafkan aku. Dan semua kebodohanku.
Malam telah tiba, matahari sudah kembali, menyisakan langit yang gelap. Aku masih tetap menunggumu, meski aku tak bisa menunggumu semalaman tapi aku akan berusaha untuk tetap menunggu sampai aku masih bisa menunggu. Membuktikan padamu bahwa aku sungguh-sungguh menyesali perbuatanku.

Dan tibalah aku pada batas waktuku, malam sudah semakin larut. Aku tidak mungkin membiarkan kedua orang tuaku gelisah menungguku. Aku harus pulang sayang, aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi. Tapi aku tinggalkan surat ini disini, berharap jika kamu datang nanti kamu akan membacanya. Dan jauh lebih berharap jika kamu sudi memaafkan aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kala Hujan Menghapus Rindu

  Hujan kembali turun ... Mengingatkan ku padamu ... Pada semua harapan yang kau gantungkan Pada setiap tetesan air yang turun ...  ...