Waktu berjalan begitu cepat, hingga aku tak bisa menikmati
detik-detik yang berlalu. Rasanya terlalu sakit jika aku harus menikmatinya.
Perasaan ini tertutup oleh satu rasa yang tak bisa ku hindari lagi. Panah cinta
telah menancap dalam di hatiku. Tak ada yang bisa ku lakukan untuk mencabut
panah itu. Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang timbul karena luka panah itu.
Hari itu aku kembali ke sini, sebuah tempat terindah yang pernah
ku singgahi. Tempat dimana aku menghabiskan hampir seluruh masa remajaku. Ekspresi
bahagia, sedih, kecewa, dan sakit tercipta disini. Namun aku merasakan ada
sesuatu yang hilang dari hidupku, aku kehilangan sosok dirimu.
Kehilangan sosok yang dulu selalu ada menemaniku saat bahagia,
sedih, kecewa, marah atau bahkan saat aku terluka. Kehilangan ini menyisakan
rindu yang menyakitkan.
Ku genggam erat amplop biru berisikan surat. Goresan tinta yang ku
susun sedemikian rupa agar kamu mau membacanya. Setiap kalimat yang tertulis
menggambarkan rasa sesalku telah menyakitimu. Setiap kata yang tertulis disana,
menggambarkan satu permintaan maafku, setiap huruf yang tertulis adalah
ungkapan rasa cintaku padamu.
Aku tetap berdiri di tempat yang sama, dan akan tetap menunggumu
sampai kamu datang. Angin mulai berhembus kencang, menerpa tubuh yang sudah tak
berdaya lagi. Matahari mulai turun, memancarkan sinar jingga, menyilaukan mata
yang kembali dibanjiri air mata. Berat bagiku mengungkapkan semuanya, tapi aku
harus menngungkapkan semuanya sebelum terlambat. Aku menunggu mu hingga malam
datang, tapi kamu tak datang. Mungkin memang semuanya sudah terlambat, atau mungkin
kamu memang tak akan datang untuk memaafkan aku.
Aku memang tak pantas untuk dimaafkan, bodohnya aku berfikir kalau
kamu akan datang ke tempat ini seperti apa yang pernah kita janjikan dulu. Luka
yang ku berikan untukmu terlalu dalam. Bahkan jika aku yang merasakannya aku
pun tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Sikap ku saat itu memang
sangat keterlaluan. Hingga membuatmu merasa sangat jatuh dan terpuruk.
Tapi apa salah jika aku menyesali semuanya, salahkah aku jika aku
ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Benang yang terputus memang tak
bisa disambung lagi dengan sempurna, tancapan paku mungkin akan meninggalkan
bekas, dan hati yang terluka tak mungkin bisa kembali seperti semula. Mungkin
kamu tidak akan pernah bisa menerima aku lagi tapi aku mohon maafkan aku. Dan
semua kebodohanku.
Malam telah tiba, matahari sudah kembali, menyisakan langit yang
gelap. Aku masih tetap menunggumu, meski aku tak bisa menunggumu semalaman tapi
aku akan berusaha untuk tetap menunggu sampai aku masih bisa menunggu.
Membuktikan padamu bahwa aku sungguh-sungguh menyesali perbuatanku.
Dan tibalah aku pada batas waktuku, malam sudah semakin larut. Aku
tidak mungkin membiarkan kedua orang tuaku gelisah menungguku. Aku harus pulang
sayang, aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi. Tapi aku tinggalkan surat ini
disini, berharap jika kamu datang nanti kamu akan membacanya. Dan jauh lebih
berharap jika kamu sudi memaafkan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar