Minggu, 21 Januari 2018

Cerpen - Rindu untuk Ibu

Cinta adalah sebuah alasan untuk kita melakukan segala sesuatu untuk membuat orang yang kita cintai bahagia. Cinta yang tulus membuat seseorang rela mengorbankan segalanya bahkan nyawa sekalipun sanggup mereka gadaikan demi orang yang dicintainya. Tidak ada kata lelah, maupun menyerah untuk mewujudkan segala keinginannya, tidak ada kata istirahat bahkan seluruh waktunya pun rela ia korbankan  untuk tetap menjaga dan melindungi orang yang dicintainya. Meski cinta itu tidak pernah terbalas, meski hanya bantahan, cacian bahkan tangisan yang diberikan tapi cinta itu tidak pernah berubah, masih tetap sama dan akan selalu sama, bahkan cintanya akan semakin bersar seiring dengan berjalannya waktu. Itulah cinta seorang ibu kepada anaknya, tak akan pernah seorangpun yang mampu untuk menggantikannya. Saat cinta itu hilang, anak baru menyadari betapa besar kasih sayang sang ibu kepadanya. Tapi sadar itu kini sudah terlambat karena ibu tak akan pernah kembali, menyisakan sebuah penyesalan yang tiada pernah bisa hilang. Tak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya kembali bahkan tak ada lagi kesempatan untuk kita membalas ataupun hanya sekedar memohon ampun atas segala kesalahan yang kita lakukan padanya. hanya do’a yang mampu terucap sebagai hantaran untuk kebahagiaan dan ketenangannya.
∞ Nayla Rahma Nugraha ∞
 “Nay dari mana, kenapa baru pulang?” tanya ibu lembut. Nayla hanya tersenyum pahit menyalami ibunya kemudian berlalu menuju kamarnya. Tapi ibu menahan tangannya, Nayla menoleh.
“Nay ibu ingin bicara sama Nayla, boleh?” tanya ibunya masih halus.
“Nayla cape bu, Nayla pengen istirahat. Boleh kalau kita bicara besok?” Nayla melepaskan tangan ibunya.
“sebentar saja sayang” ibunya masih memujuk, tapi Nayla tidak ambil peduli.
“bu, Nayla cape jadi bolehkan kita bicara besok” kini nada bicara nayla sudah naik satu oktaf, membuat ibunya mengangguk perlahan. Nayla menarik nafas lega, sebenarnya dia tidak benar-benar lelah tapi dia tahu apa yang akan dibicarakan ibunya. Jadi dari pada dia bertengkar dengan ibunya lebih baik dia menghindar, meskipun dia sadar bahwa tadi dia sudah berkata kasar pada ibunya.
“ya sudah, Kamu istirahat ya nak. Jangan lupa solat” Nayla berlalu kemudian benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ibunya menghela nafas panjang. Beliau sedikit terasa dengan sikap anaknya yang berani meninggikan suara. Ini pertama kalinya dia mendengar suara keras anaknya. Biasanya selelah apapun Nayla hanya mencibir atau tersnyum sinis tapi kali ini. ibu menahan sebak dalam hatinya dan beristigfar.
“ibu kenapa?” tanya ayah, dari tadi dia memperhatikan istrinya hanya termenung memandang kamar anaknya. Apa mungkin mereka bertengkar lagi, atau mungkin terjadi sesuatu dengan Nayla. Dari tadi beliau juga tidak melihat Nayla keluar dari kamarnya.
“ibu tidak apa-apa kok yah, ibu hanya kecapean aja” ucapnya berbohong. Ayah mencoba percaya meskipun tidak dia belum sepenuhnya percaya pada sang isteri dan sekarang dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan “Nayla kemana bu?”
“semenjak pulang kerja dia belum keluar dari kamarnya, mungkin dia tertidur karena kelelahan. Ayah tahu sendiri beberapa bulan ini dia sangat sibuk bahkan sering kali lupa untuk menjaga kesehatannya” ayah menghela nafas mendengar jawaban isterinya, entah sejak kapan beliau merasa kalau Nayla sedang mencoba menghindar dari keluarga dan mengalihkan seluruh perhatiannya pada bisnis yang sedang dijalaninya. Terkadang beliau merasa sedih karena selama ini beliau tidak bisa membantu apa-apa. Adik-adiknya sudah membantu tapi tetap saja mereka hanya bisa melakukan sebagian kecil dari tugasnya. Terkadang beliau juga merasa sedih karena kesibukan sang anak membuatnya lupa akan kewajibannya untuk menyempurnakan separuh agama yang hingga kini masih tergadai. Mungkin itu jugalah yang ada dalam pikiran sang isteri sekarang.
Sementara itu di dalam kamar Nayla kembali membulak-balikan file yang harus dipelajari sebelum matahari terbit besok. Besok dia harus menemui client yang ingin membeli beberapa ratus ekor sapi dari peternakannya dan dia harus memeriksa beberapa file yang dibutuhkan untuk kontrak jual beli. Akhirnya setelah 2 jam berkutat dengan file nya nayla bisa menyelesaikan tugasnya.  Dia menoleh ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Dan ini waktunya dia untuk tidur, besok dia harus ke luar kota untuk mengecek persiapan pengiriman.
***
Pagi ini Nayla bangun lebih pagi untuk melaksanakan solat malam, dia ingin bermunajat kepada Allah agar dia segera diberi kekuatan untuk tetap bersabar daam menjalani segala ujian yang ada dalam kehidupannya selama ini. Dalam hatinya hanya ada satu yang selalu dia minta kepada Sang Pencipta. Keinginan untuk merubah takdirnya yang sampai sekarang belum juga berubah. Keinginan untuk menyandang sebuah takdir yang pastinya juga diinginkan oleh keluarganya. Takdir menjadi seorang isteri kepada seorang insan yang melabuhkan cintanya kepada sang Pencipta. Selepas solat subuh dia segera bersiap-siap untuk berangkat, dia harus sampai sebelum jam 9 pagi dan dia tidak mau terjebak macet jika menunggu fajar  tiba. Nayla keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan ibunya.
“Nayla mau kemana? Ini kan masih subuh sayang?” tanya ibunya. Nayla hanya terdiam sesaat dia masih merasa bersalah karena sikapnya kemarin.
“Nayla harus pergi ke peternakan bu, ada sesuatu yang harus Nayla periksa” jawabnya canggung.
“tapi apa ini tidak terlalu pagi Nayla belum sarapan dan bukannya dari semalam Nayla belum makan” ucap ibunya.
“nayla gak apa-apa kok bu. Nayla bisa sarapan di jalan nantinya” jawab Nayla seraya menggapai tangan ibunya.
“kamu tunggu sebentar ibu siapain sarapan dulu buat kamu ya..” ucap ibu menahan tangan Nayla, hendak berlalu ke dapur tapi Nayla menahan gerak tangan ibunya.
“Nayla sudah terlambat bu”
“tapi”
“Nayla sudah bilang kan kalau nayla bisa sarapan di sana” ucap Nayla dingin, dia mencium tangan ibunya kemudian berlalu meninggalkan yang masih terkaku dengan sikap dingin anaknya. Entah apa kesalahan beliau hingga Nayla sanggup mendiamkannya dalam dingin seperti ini. apa ini karena sikapnya yang terlalu menekan Nayla untuk segera menikah padahal dia belum mau. Salahkah beliau berharap kalau dia akan mendapatkan cucu dari anak perempuan satu-satunya itu. Sekali lagi beliau beristigfar dan menghela nafas panjang.
“Maafkan Nayla bu, bukan Nay bermaksud bersikap tidak baik sama ibu. Nayla tidak tahu kenapa Nayla bersikap seperti ini. Nayla tertekan bu, Nayla bingung Nayla seperti kehilangan arah karena ibu dan ayah terus-terusan menekan Nayla untuk menikah. Beri Nayla waktu bu, untuk memulihkan kembali segalanya” lirih nya menatap sang ibu sebelum dia benar-benar keluar dari rumah. Dalam hatinya dia ikut menangis karena bersikap kasar dan tidak baik pada ibunya. Dia tahu semua itu salah tapi entah mengapa perasaan dan egonya selalu menang dan berhasil membuatnya melanggar batas kesopanan pada orang tua.
***
2 bulan telah berlalu sejak kejadian pagi itu, sejak itu juga Nayla bersikap dingin pada sang ibu. Meski tidak terlalu kentara tapi semua itu tetap dirasakan sang ibu, entah mengapa beberapa waktu ini beliau memang lebih perasa dan sensitif. Sementara itu Nayla semakin sibuk dengan pekerjaannya bahkan jarang pulang ke rumah, dia lebih sering menghabiskan waktu nya di kantor atau bahkan apartemennya.
Malam itu Nayla pulang ke rumah sangat larut karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Rasa lelah yang mendera tubuh membuatnya ingin segera memasuki kamar untuk beristirahat. Namun semua itu terhenti saat sang ibu memanggilnya.
“Ada apa bu?” jawab Nayla rendah, sememangnya dia sudah tidak bisa lagi bersuara keras karena tenaganya telah habis terkuras.
“Nayla dari mana saja kenapa baru pulang?” tanya ibunya lembut seraya mendekati anaknya. Nayla hanya berdiri kaku di dekat tangga rumahnya.
“Nayla kerja bu” jawabnya lemah. Ibunya menghella nafas mendengar jawaban anaknya, bukan itu yang ingin dia dengar karena dia sudah tahu. Tapi dia ingin tahu kemana saja anaknya pergi selama seminggu ini dia tidak pulang ke rumah.
“Nay, tidur dimana semalam?” tanya ibunya lagi.
“bu, bisa kita bahas ini nanti. Nayla cape banget bu” jawab Nayla semakin dingin. dia beranjak melangkah menuju kamarnya.
“Nay, ibu Cuma bertanya darimana saja kamu seminggu ini. ibu kuatir sama Nayla. Beberapa minggu ini Nayla selalu saja pulang malam bahkan Nayla juga jarang pulang. Ibu kuatir sama kesehataan kamu nak” lirih ibunya, dia mulai perasan dengan sikap dingin ankanya. Akh terlalu banyak yang berubah dari sikap Nayla. Dulu Nayla tidak pernah bersikap sedingin ini, Nayla selalu tersenyum dan ceria. Dia ingat kalau malam minggu seperti ini mereka selalu menonton bersama di ruang tamu atau keluar jalan-jalan bersama suaminya.
“ibu kenapa berdiri di situ?” tanya ayah. Beliau sedikit merasa heran dengan sikap istrinya yang selalu saja termenung sendiri. Beliau selalu merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.
“Nayla, yah” jawabnya lembut seraya memeluk suaminya. Ayah membalas pelukan istinya dia tahu perasaan sang istri yang merindukan anaknya. Beliau juga perasan ddengan sikap Nayla yang sedikit menjauh darinya dan istrinya.
“Nayla gak mau bicara sama ibu, yah” akhirnya ibu bisa mengungkapkan segala perasaan yang mengganjal di hatinya. Ayah hanya bisa menghela napas, beliau sebenarnya tidak tega dengan keadaan istrinya. Selain memiliki penyakit darah tinggi beliau juga memiliki tekanan batin karena sikap Nayla saat ini. beliau juga sebenarnya tidak mengerti kenapa Nayla berubah seratus delapan puluh derajat, tidak ada lagi Nayla yang ceria dan ramah, tidak ada lagi Nayla yang lembut dan tidak ada lagi Nayla yang penurut. Semuanya seolah sirna di telan bumi, ‘Ya Allah bukakanlah pintu hati anak hamba Ya Rabb. Jika dia memiliki beban maka ringankanlah bebannya dan jika dia berbuat kekhilafan maka ampunkanlah’ lirih ayah dalam hati.
“sabar ya bu, mungkin Nayla memang sedang banyak pekerjaan sehingga dia seperti itu”
***
Sementara itu di kamar Nayla tengah mengeringkan rambutnya, dia baru saja selesai mandi. Meskipun dokter sudah melarangnya untuk melakukan aktivitas berlebihan dan juga mandi di tengah malam. Tapi semua itu dilakukannya untuk bisa melupakan tekanan batin yang selama ini menghimpitnya. Tekanan yang dia dapat dari ibunya yang selalu menanyakan soal pernikahan.  Bukan dia tidak ingin menikah tapi pada kenyataannya dia belum menemukan calon yang sesuai dengan harapannnya. Dia tidak lagi melihat harta, pangkat, status atau apapun yang berhubungan dengan keduniaan. Yang dia butuhkankan hanyalah laki-laki yang menyerahkan  cintanya kepada Allah Swt. Mencintainya karena Allah bukan hanya karena nafsu seperti laki-laki yang pernah datang padanya.
Selama ini bukannya dia sengaja ingin menjauh dari orang tuanya tapi dia hanya tidak siap menghadapi orang tuanya. Dia hanya takut kalau dia akan mengecewakan orang tuanya lagi jika mendengar jawabannya.
Selama ini juga bukan dia tidak berusaha untuk mendapatkan jodohnya. Dia memang sering menolak pinangan laki-laki yang datang padanya tapi bukan karena alasan yang tidak jelas. Semua yang datang padanya bukanlah laki-laki yang mampu membawa kebaikan dalam kehidupannya. Bahkan selama ini dia tidak memutuskannya sendiri, dia selalu melakukan istikharah panjang dalam setiap keputusan yang berkenaan dengan kehidupannya. Dan semua jawabannya adalah jawaban yang selama ini dia utarakan kepada kedua orang tuanya.
Nayla menghela nafas panjang, jika mengingat sikapnya pada sang ibu. Dia selalu merasa bersalah dan dia selalu minta ampun kepada Allah dalam setiap do’anya. Dia tahu dia sudah keterlaluan tapi entah mengapa jiwanya selalu menolak untuk berhadapan ataupun sekedar mendengarkan suara ibunya. Jiwanya seolah berontak dan memintanya untuk pergi menjauh.
‘Ya Allah tunjukanlah aku petunjukmu dalam menghadapi ujian ini. Hamba tidak sanggup menjalani semua ini sendiri Ya Rabb, hamba butuh bantuan dan pertolongan-Mu Ya Rabb. Karena sesungguhnya tiada tempat hamba untuk menyembah dan meminta pertolongan selain hanya pada-Mu Ya Allah’ gumam Nayla dalam hati.
Leka dalam lamunan membuatnya tidak menyadari bahwa dari tadi sang ayah sedang memperhatikannya dari daun pintu. Sang ayah memperhatikannya dengan wajah yang tidak kalah sendu. Beliau dapat melihat kesedihan dan tekanan yang menghimpit pikiran anak gadisnya itu. ‘maafkan ayah nak. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. Maafkan ayah yang membiarkanmu terlalu lena dengan pekerjaanmu hanya karena ayah tidak dapat membantu apa-apa. Maafkan ayah yang terus menekanmu untuk menikah tanpa memikirkan perasaan kamu. Tapi asal kamu tahu nak, ayah selalu mendo’akan hal yang terbaik untukmu dan juga kebahagiaanmu. Ayah selalu berdo’a agar kamu tetap kuat dan bahagia dalam menjalani kehiduoan dan ujian yang menimpa kehidupanmu. Sekali lagi maafkan ayah karena hanya do’a yang bisa ayah berikan untuk meringankan bebanmu’ gumam ayah dalam hati. Niat semula ingin berbicara dengan anaknya terpaksa dia undur melihat wajah lelah anaknya. Seharian bekerja memang tidak mudah untuk dijalaninya mengingat dia hanyalah seorang wanita yang memiliki berbagai keterbatasan.
***
Hari itu Nayla bangun kesiangan. Memang dia tertidur lagi setelah sembahyang subuh. Dia melihat ke arah jam dinding, 09.00. ternyata dia tertidur sangat lama. Nayla menoleh ke arah jendea yang sudah terbuka dan mengundang sinar mentari untuk masuk menerangi kamarnya. Lampu kamar sudah dimatikan dan .. ‘hmmpt’ dia mencium harum nasi goreng yang sudah tersedia di meja kecil samping tempat tidurnya.
“akh. Ibu, kenapa ibu selalu membuat Nayla merasa bersalah karena kasih sayang ibu. kenapa ibu masih sangat mencintai Nayla padahal selama ini Nayla selalu bersikap buruk sama ibu” Nayla bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju balkon. Dia ingin menghirup udara segar yang sudah lama dia tidak hirup. Dia ingin melihat salah satu ciptaan tuhan yang paling indah.
Nayla berdiri dia atas balkon, memejamkan matanya dan menghirup udara sedalam mungkin, lalu kemudian melepaskannya perlahan. Nayla melakukannya berulang-ulang sebelum membuka lagi matanya. Saat dia membuka mata, seperti yang dia harapkan kalau dia akan melihat ciptaan Tuhan yang paling indah. Sebuah wajah yang menyambutnya dengan sebuah senyuman paling indah. Senyuman yang tak pernah berubah dari dulu. Senyuman yang selalu ada dalam keadaan apapun. Senyuman yang selalu membuatnya merasa bahwa dia tidak sendiri. Senyuman yang berasal dari sebuah ketulusan kasih sayang seorang ibu.
Melihat senyuman itu membuat Nayla sadar bahwa selama ini dialah yang telah dikuasai oleh ego dan juga kemarahan sesaat. Seharusnya dia menyadari bahwa selama ini sang ibu hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Mungkin perkataan murrabinya benar, selama ini dia seharusnya tidak berusaha mendamaikan hati ibunya tapi seharusnya dialah yang mencoba berdamai dengan diri sendiri.
‘seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuknya. dia tidak berharap apa-apa dari anaknya selain kebahagiaan mereka. Terkadang memang dia memaksakan kehendaknya tapi itu bukan karena dia ingin menjeumuskan anaknya, bukan juga karena dia tidak mengerti perasaan sang anak. Namun kasih sayang mereka yang begitu besar membuat dia kadang khawatir dengan masa depan anaknya. Dalam hal ini Ibumu terlalu khawatir jika saat dia pergi, belum ada yang menjaga dan melindungi kamu secara utuh. Sedangkan ayahmu terlalu tua untuk menjaga kamu. Dan rasa khawatir itulah yang menekan ibumu untuk melakukan semua itu, percayalah nak, semua itu hanya wujud kasih sayang seorang ibu untuk anaknya’ ucap sang murrabbi saat kemarin dia menyempatkan diri untuk mampir ke mushola, setelah hampir 3 bulan dia absen dari pengajian itu.
‘itu artinya saya harus mencoba berdamai dengan ibu saya ustadzah?’ tanya Nayla masih bingung. Nayla masih ingat sang murrabi malah tersenyum dan menggeleng.
‘terus apa yang harus saya lakukan ustadzah?’
‘kamu tidak harus berdamai dengan ibumu ataupun mendamaikan hatinya. Yang harus kamu coba lakukan adalah berdamai dengan hati kamu sendiri, karena perasaan kamu lah yang membawamu pergi menjauh dari ibumu dan perasaan itu jugalah yang membuat adanya perang dingin antara kamu dan ibumu.  Ibumu hanya ingin kamu menuruti permintaannya, itu saja. Bukankah selama ini dia tetap memberikan segala keputusan ada di tangan kamu. Bukankah selama ini dia tidak memaksa kau untuk menerima’ ucap sang murrabi menekankan.
Nayla kembali memandang wajah sang ibu yang sedang leka dengan bacaan di tangan. ‘mungkin sudah saatnya aku berdamai dengan hatiku sendiri’.
***
Selepas mandi Nayla menyantap sarapan yang telah disediakan ibunya.dia sudah bertekad bahwa hari ini adalah hari terakhirnya bersikap dingin pada sang ibu. Dia sudah mantap untuk menerima apa saja yang diminta oleh ibunya, termasuk mengikuti perjodohan yang selama ini sangat dibencinya. Bukan dia tidak mau beriktiar tapi dari senarai calon yang  dikenalkan oleh ibunya tak ada satupun yang memenuhi kriteria hatinya.
Piring dalam genggamannya kini sudah kosong, dan susu dalam gelas juga telah habis. Nayla menghela nafas panjang lalu kemudian menghembuskannya perlahan. Ada sedikit keraguan dalam dirinya tapi semua itu harus segera di tepisnya. Dia harus yakin bahwa ini adalah jalan yang terbaik.
Dia melangkah menuju tempat mencuci piring di dapur dan langkahnya terheni melihat sang ibu telah lebih dulu berdiri di dekat sinki, beliau sedang mencuci gelas teh, Nayla merasa ragu untuk mendekati ibunya dan hendak berbalik. Biarlah dia mencuci ini nanti, dia belum siap berbicara dengan ibunya.
“kamu mau kemana sayang?” pertanyaan itu sontak membuat langkah Nayla terhenti. Dia berbalik lalu kemudian tersenyum kepada ibunya, inilah saatnya dia kembali ke pelukan sang ibu. ‘kamu pasti bisa Nay, benar kata ustadzah kalau selama ini akulah yang menjauh dari ibu dan menciptakan perang dingin ini. Semua ini harus segera berakhir sebelum aku menyesali semuanya’. Nayla menyimpan peralatan kotor itu di sinki lalu kemudian mendekati ibunya.
“Boleh Nayla bicara dengan ibu?” tanyanya sedikit ragu. Me;ihat keraguan sang anak ibu langsung mendekati anaknya dan merangkul anaknya.
“sejak kapan seorang anak harus meminta ijin terlebih dahulu untuk berbicara dengan ibunya. Atau kamu memang terbiasa harus membuat janji terlebih dahulu untuk berbicara dengan seseorang?” pertanyaan yag lembut namun mampu memukul keras perasaan Nayla, pertanyaan itu seolah memang sengaja diucapkan untuk menakutinya.

***
“ibu, Nayla minta maaf sudah mengecewakan ibu, Nayla minta maaf karena selalu membuat ibu marah, kesal, bahkan Nay sering sekali membuat Ibu menangis karena sikap Nay. Nayla selalu membantah ibu, Nay berkata kasar pada ibu, Nay juga selalu meninggalkan ibu, bahkan di saat ibu membutuhkan Nayla... Nay minta maaf, Nay tidak bisa membahagiakan Ibu, maaf jika Nay tidak bisa membuat ibu selalu tersenyum, dan maaf jika Nayla belum bisa nepatin janji Nay sama Ibu... Nay minta maaf bu.. Nay mohon ampun sama ibu ... Nay ... Nay” kata-kata Nayla semakin tersendat oleh air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir, terbayang kembali segala dosa yang telah dilakukannya pada sang ibu. Semua itu tergambar jelas di pelupuk matanya seperti sebuah rekaman yang tak bisa untuk dia hentikan. Dalam bayangannya tergambar jelas bagaimana sikapnya selama ini pada sang ibu, saat dia membantah ibunya, mengabaikan permintaannya, membentaknya, bahkan mencibir setiap ucapannya. Dia juga teringat akan senyum sinis yang selalu dia sematkan setiap kali ibunya membahas tentang pernikahan.
“Nay, bukan anak yang baik untuk ibu. Nay durhaka sama ibu. Nay tidak pantas jadi anak ibu. Nay mohon ampun bu” Tangis semakin menjadi bahkan kini tangannya sudah menggenggam erat tangan ibunya dan sesekali menciumnya. Dia masih berusaha untuk menghentikan tangisnya tapi dosa-dosanya pada sang ibu membuatnya tidak bisa berhenti. Terlalu banyak dosa yang telah dia lakukan, bahkan entah beratus ribu kesalahan yang dia buat.
“Nayla, peluk ibu sayang” tanpa berkata apa-apa Nayla langsung memeluk sang ibu, begitu hangat dan menenangkan tapi kenapa baru sekarang dia merasakannya. Kemana perasaan ini saat dulu ibunya memluknya. Kenapa dulu dia selalu merasa kesal saat ibu memeluknya seperti ini.
“Nayla jangan nangis ya sayang. Ibu udah maafin Nayla bahkan sebelum Nayla melakukan kesalahan. Ibu tahu semua itu Nayla lakukan karena Nayla sayang kan sama ibu. Nayla tahu, Nayla adalah anugerah terindah untuk ibu. Nayla anak kebanggaan ibu, Nayla adalah sumber kebahagiaan ibu. Ibu tahu selama ini Nayla selalu berusaha untuk menyenangkan hati ibu kan, itu cukup buat ibu. Tangisan ibu adalah tangisan bahagia karena ibu memiliki anak yang baik seperti Nayla” ucap ibunya parau, Nayla semakin mengeratkan pelukannya dia tahu ini adalah pelukan terakhirnya, dan dia tidak mau melepaskannya begitu saja.
“tapi Nayla sudah mengecewakan ibu, Nayla belum bisa nepatin janji Nayla sama Ibu” tangisannya semakin menjadi tatkala sang ibu melepaskan pelukannya.
“Nayla pandang ibu sayang” ibu mengangkat wajah anak perempuannya. “saat Nayla berjanji sama ibu, ibu yakin kalau Nayla pasti akan menepatinya. Jika memang saat ini Nayla belum menapatinya itu bukan salah Nayla. Itu takdir Allah swt. Dia pasti memiliki rencana lain buat Nayla, rencana yang mungkin jauh lebih indah dari apa yang telah Nayla lewatkan sebelumnya. Ibu sudah ikhlas nak, Ibu sadar kalau semua itu adalah kehendak-Nya kita sebagai manusia tidak bisa mengubah apa-apa ketetapan-Nya. Dalam do’a ibu, ibu selalu berdo’a untuk kebahagiaan anak-anak ibu. Ibu selalu berdo’a untuk kebahagiaan kalian dan segala yang terbaik untuk kalian. Dan ibu juga selalu berdo’a agar pilihan Nayla nanti adalah pilihan terbaik di mata Allah. Dan jika memang ibu tidak diijinkan untuk melihatnya disini maka ibu akan melihatnya disana di dunia keabadian. Ibu Ikhlas nak” nayla kembali memeluk ibunya, dia tidak peduli lagi dengan airmatanya yang sudah mengering, atau bajunya yang sudah basah dengan air mata tapi yang dia tahu adalah dia beruntung memiliki ibu yang selalu menyayanginya.
“sudahlah nak. Jangan menangis lagi sayang. Mana Nayla yang ibu kenal, mana Nayla yang kuat dan tegar,  mana Nayla yang selalu tersenyum, ceria dan bersemangat. Ibu butuh Nayla yang seperti itu bukan Nayla yang lemah dan cengeng” ucapnya melepaskan pelukan Nayla, dia kembali meanmandang wajah anaknya dan menautkan kedua ibu jarinya di sudut bibi Nayla menariknya agar terbentuk sebuah senyuman.
“tersenyum ya sayang, ibu suka ngeliat senyuman kamu. setelah ini kamu harus berjanji sama ibu untuk tetap tersenyum ya, nak. Jangan pernah menangis seperti ini lagi, Ibu lebih suka dengan senyuman Nay bukan air mata Nay. Ibu pengen senyuman Nay ini akan menjadi teman bagi ayah nanti, menjadi penghibur untuk ayah dan mengobati segala sepi dan kerinduan ayah. Ibu titip ayah ya sayang, jaga dia dan jangan pernah biarkan dia menangis lagi. Ibu tidak mau melihat ayah menangis lagi, karena ayah kamu akan terlihat jelek saat menangis” itulah amanat terakhir ibu kepada Nayla lkarena setelah kalimat itu hanya kalimat syahadat yang terucap dari mulut. Sebelum akhirnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir dan merungkai pelukan Nayla.
Tetesan penyesalan itu kembali hadir di setiap malam yang dilaluinya, malam-malam yang dia lalui sendiri setelah kematian sang ibu. Kini sudah tidak ada lagi ocehan sang ibu, tidak ada lagi kekesalan saat dia pulang malam dan tidak ada lagi nasihat panjang yang selalu diucapkan ibunya saat dia pulang malam atau bangun terlambat. Meski sudah 1 tahun tapi semuanya terasa begitu cepat, bahkan terlalu cepat untuk menghapus rasa bersalahnya.
“kamu menangis lagi sayang” suara serak itu membangunkan Nayla dari lamunannya, membawanya kembali pada kenyataan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Dia lebih selesa saat membayangkan keberadaan ibunya disisinya. Nayla menoleh ke pada ayahnya dan tersenyum. Bukan ayah tidak tahu dengan perasaan anaknya tapi dia menghargai usaha sang anak untuk memenuhi janji pada istrinya. Selama satu tahun ini dia memang selalu melihat senyuman Nayla. Tapi beliau tahu bahwa senyuman itu hanya sebatas janji bukan sebuah ketulusan.
“Nay, rindu ibu?” tanya ayah, beliau duduk di samping Nayla dan memandang wajah anakanya. Masih terdapat sisa tangisan disana, air mata yang tidak terhapus sempurna itu terlihat begitu saja dimatanya.
“Ibu adalah orang yang paling Nay cintai di dunia ini. jika ayah bertanya apa Nay rindu ibu? Tentu saja Nay merindukannya, Nay rindu senyuman ibu, belaian ibu dan juga pelukan ibu. Nay juga rindu nasihat ibu, bahkan Nay rindu dengan ocehan ibu” Nayla tersenyum ke arah luar balkon.
Tentu saja dia sangat merindukan sang ibu. Tiada yang mampu menggantikan posisi sang ibu dalam hatinya karena sang ibu adalah satu-satunya permata kehidupan yang tak akan pernah ada yang menggantikan keindahannya. Ketulusan dan kasih sayang sang ibu adalah sumber semangat dan kehidupannya dalam menjalani kehidupannya. Nayla sadar kalau semua titu tak akan pernah bisa dia balas meski dia menghadiahkan gunung emas untuk sang ibu.
“bu. Tak terasa sudah satu tahun ibu pergi, meninggalkan Nayla dan semua peyesalan ini. Bu, besok Nayla akan menikah bu. Setelah penantian panjang ahirnya Allah mempertemukan Nayla dengan imam Nayla bu. Bu, senadainya ibu ada disini mungkin sekarang Nayla akan melihat senyuman ibu. Nayla juga akan mendengarkan nasihat-nasihat ibu. Seandainya ibu ada disini mungkin Nayla bisa memeluk ibu dan mencurahkan segala kegelisahan Nayla. Nayla gugup bu, Nayla takut. Nayla takut tidak bisa menjadi seorang isteri dan ibu yang baik. Nayla takut tidak bisa seperti ibu yang selalu melakukan apa saja untuk ayah dan kami anak ibu. tapi ibu jangan khawatir, Nayla akan berusaha untuk menjadi isteri yang baik dan taat pada suami seperti apa yang ibu katakan pada Nayla. Bu, terima kasih telah melahirkan Nayla, memberikan Nayla kesempatan untuk menghirup dan melihat indahnya dunia. Terima kasih karena membesarkan Nayla dengan penuh kasih sayang, terima kasih karena ibu memberi kesempatan kepada Nayla untuk menjadi anak dari wanita hebat seperti ibu. terima kasih untuk kasih sayang dan ketulusan yang selalu ibu berkan dalam setiap hembusan nafas ibu, terima kasih untuk do’a yang tiada pernah berhenti kau lafazkan untuk kami anakmu. Tiada apa yang dapat Nayla berikan selain lantunan ayat suci ini untuk ibu. Hanya do’a tulus berharap ibu akan tenang dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Semoga Allah menempatkan ibu bersama golongan orang-orang yang  sholeh”

*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kala Hujan Menghapus Rindu

  Hujan kembali turun ... Mengingatkan ku padamu ... Pada semua harapan yang kau gantungkan Pada setiap tetesan air yang turun ...  ...