Cinta adalah sebuah alasan untuk kita
melakukan segala sesuatu untuk membuat orang yang kita cintai bahagia. Cinta
yang tulus membuat seseorang rela mengorbankan segalanya bahkan nyawa sekalipun
sanggup mereka gadaikan demi orang yang dicintainya. Tidak ada kata lelah,
maupun menyerah untuk mewujudkan segala keinginannya, tidak ada kata istirahat
bahkan seluruh waktunya pun rela ia korbankan
untuk tetap menjaga dan melindungi orang yang dicintainya. Meski cinta
itu tidak pernah terbalas, meski hanya bantahan, cacian bahkan tangisan yang
diberikan tapi cinta itu tidak pernah berubah, masih tetap sama dan akan selalu
sama, bahkan cintanya akan semakin bersar seiring dengan berjalannya waktu. Itulah
cinta seorang ibu kepada anaknya, tak akan pernah seorangpun yang mampu untuk
menggantikannya. Saat cinta itu hilang, anak baru menyadari betapa besar kasih
sayang sang ibu kepadanya. Tapi sadar itu kini sudah terlambat karena ibu tak
akan pernah kembali, menyisakan sebuah penyesalan yang tiada pernah bisa
hilang. Tak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya kembali bahkan tak ada
lagi kesempatan untuk kita membalas ataupun hanya sekedar memohon ampun atas
segala kesalahan yang kita lakukan padanya. hanya do’a yang mampu terucap
sebagai hantaran untuk kebahagiaan dan ketenangannya.
∞
Nayla Rahma Nugraha ∞
“Nay dari mana, kenapa baru pulang?” tanya ibu
lembut. Nayla hanya tersenyum pahit menyalami ibunya kemudian berlalu menuju
kamarnya. Tapi ibu menahan tangannya, Nayla menoleh.
“Nay ibu ingin bicara sama Nayla,
boleh?” tanya ibunya masih halus.
“Nayla cape bu, Nayla pengen istirahat.
Boleh kalau kita bicara besok?” Nayla melepaskan tangan ibunya.
“sebentar saja sayang” ibunya masih
memujuk, tapi Nayla tidak ambil peduli.
“bu, Nayla cape jadi bolehkan kita
bicara besok” kini nada bicara nayla sudah naik satu oktaf, membuat ibunya
mengangguk perlahan. Nayla menarik nafas lega, sebenarnya dia tidak benar-benar
lelah tapi dia tahu apa yang akan dibicarakan ibunya. Jadi dari pada dia
bertengkar dengan ibunya lebih baik dia menghindar, meskipun dia sadar bahwa
tadi dia sudah berkata kasar pada ibunya.
“ya sudah, Kamu istirahat ya nak. Jangan
lupa solat” Nayla berlalu kemudian benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ibunya
menghela nafas panjang. Beliau sedikit terasa dengan sikap anaknya yang berani
meninggikan suara. Ini pertama kalinya dia mendengar suara keras anaknya.
Biasanya selelah apapun Nayla hanya mencibir atau tersnyum sinis tapi kali ini.
ibu menahan sebak dalam hatinya dan beristigfar.
“ibu kenapa?” tanya ayah, dari tadi dia
memperhatikan istrinya hanya termenung memandang kamar anaknya. Apa mungkin
mereka bertengkar lagi, atau mungkin terjadi sesuatu dengan Nayla. Dari tadi
beliau juga tidak melihat Nayla keluar dari kamarnya.
“ibu tidak apa-apa kok yah, ibu hanya
kecapean aja” ucapnya berbohong. Ayah mencoba percaya meskipun tidak dia belum
sepenuhnya percaya pada sang isteri dan sekarang dia mencoba untuk mengalihkan
pembicaraan “Nayla kemana bu?”
“semenjak pulang kerja dia belum keluar
dari kamarnya, mungkin dia tertidur karena kelelahan. Ayah tahu sendiri
beberapa bulan ini dia sangat sibuk bahkan sering kali lupa untuk menjaga
kesehatannya” ayah menghela nafas mendengar jawaban isterinya, entah sejak
kapan beliau merasa kalau Nayla sedang mencoba menghindar dari keluarga dan
mengalihkan seluruh perhatiannya pada bisnis yang sedang dijalaninya. Terkadang
beliau merasa sedih karena selama ini beliau tidak bisa membantu apa-apa.
Adik-adiknya sudah membantu tapi tetap saja mereka hanya bisa melakukan
sebagian kecil dari tugasnya. Terkadang beliau juga merasa sedih karena
kesibukan sang anak membuatnya lupa akan kewajibannya untuk menyempurnakan
separuh agama yang hingga kini masih tergadai. Mungkin itu jugalah yang ada
dalam pikiran sang isteri sekarang.
Sementara itu di dalam kamar Nayla
kembali membulak-balikan file yang harus dipelajari sebelum matahari terbit
besok. Besok dia harus menemui client yang ingin membeli beberapa ratus ekor
sapi dari peternakannya dan dia harus memeriksa beberapa file yang dibutuhkan
untuk kontrak jual beli. Akhirnya setelah 2 jam berkutat dengan file nya nayla
bisa menyelesaikan tugasnya. Dia menoleh
ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Dan ini waktunya dia untuk tidur,
besok dia harus ke luar kota untuk mengecek persiapan pengiriman.
***
Pagi ini Nayla bangun lebih pagi untuk
melaksanakan solat malam, dia ingin bermunajat kepada Allah agar dia segera
diberi kekuatan untuk tetap bersabar daam menjalani segala ujian yang ada dalam
kehidupannya selama ini. Dalam hatinya hanya ada satu yang selalu dia minta
kepada Sang Pencipta. Keinginan untuk merubah takdirnya yang sampai sekarang
belum juga berubah. Keinginan untuk menyandang sebuah takdir yang pastinya juga
diinginkan oleh keluarganya. Takdir menjadi seorang isteri kepada seorang insan
yang melabuhkan cintanya kepada sang Pencipta. Selepas solat subuh dia segera
bersiap-siap untuk berangkat, dia harus sampai sebelum jam 9 pagi dan dia tidak
mau terjebak macet jika menunggu fajar
tiba. Nayla keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan ibunya.
“Nayla mau kemana? Ini kan masih subuh
sayang?” tanya ibunya. Nayla hanya terdiam sesaat dia masih merasa bersalah
karena sikapnya kemarin.
“Nayla harus pergi ke peternakan bu, ada
sesuatu yang harus Nayla periksa” jawabnya canggung.
“tapi apa ini tidak terlalu pagi Nayla
belum sarapan dan bukannya dari semalam Nayla belum makan” ucap ibunya.
“nayla gak apa-apa kok bu. Nayla bisa
sarapan di jalan nantinya” jawab Nayla seraya menggapai tangan ibunya.
“kamu tunggu sebentar ibu siapain
sarapan dulu buat kamu ya..” ucap ibu menahan tangan Nayla, hendak berlalu ke
dapur tapi Nayla menahan gerak tangan ibunya.
“Nayla sudah terlambat bu”
“tapi”
“Nayla sudah bilang kan kalau nayla
bisa sarapan di sana” ucap Nayla dingin, dia mencium tangan ibunya kemudian
berlalu meninggalkan yang masih terkaku dengan sikap dingin anaknya. Entah apa
kesalahan beliau hingga Nayla sanggup mendiamkannya dalam dingin seperti ini.
apa ini karena sikapnya yang terlalu menekan Nayla untuk segera menikah padahal
dia belum mau. Salahkah beliau berharap kalau dia akan mendapatkan cucu dari
anak perempuan satu-satunya itu. Sekali lagi beliau beristigfar dan menghela
nafas panjang.
“Maafkan Nayla bu, bukan Nay bermaksud
bersikap tidak baik sama ibu. Nayla tidak tahu kenapa Nayla bersikap seperti
ini. Nayla tertekan bu, Nayla bingung Nayla seperti kehilangan arah karena ibu
dan ayah terus-terusan menekan Nayla untuk menikah. Beri Nayla waktu bu, untuk
memulihkan kembali segalanya” lirih nya menatap sang ibu sebelum dia
benar-benar keluar dari rumah. Dalam hatinya dia ikut menangis karena bersikap
kasar dan tidak baik pada ibunya. Dia tahu semua itu salah tapi entah mengapa
perasaan dan egonya selalu menang dan berhasil membuatnya melanggar batas
kesopanan pada orang tua.
***
2 bulan telah berlalu sejak kejadian
pagi itu, sejak itu juga Nayla bersikap dingin pada sang ibu. Meski tidak
terlalu kentara tapi semua itu tetap dirasakan sang ibu, entah mengapa beberapa
waktu ini beliau memang lebih perasa dan sensitif. Sementara itu Nayla semakin
sibuk dengan pekerjaannya bahkan jarang pulang ke rumah, dia lebih sering
menghabiskan waktu nya di kantor atau bahkan apartemennya.
Malam itu Nayla pulang ke rumah sangat
larut karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Rasa lelah yang mendera tubuh
membuatnya ingin segera memasuki kamar untuk beristirahat. Namun semua itu
terhenti saat sang ibu memanggilnya.
“Ada apa bu?” jawab Nayla rendah,
sememangnya dia sudah tidak bisa lagi bersuara keras karena tenaganya telah
habis terkuras.
“Nayla dari mana saja kenapa baru
pulang?” tanya ibunya lembut seraya mendekati anaknya. Nayla hanya berdiri kaku
di dekat tangga rumahnya.
“Nayla kerja bu” jawabnya lemah. Ibunya
menghella nafas mendengar jawaban anaknya, bukan itu yang ingin dia dengar
karena dia sudah tahu. Tapi dia ingin tahu kemana saja anaknya pergi selama
seminggu ini dia tidak pulang ke rumah.
“Nay, tidur dimana semalam?” tanya
ibunya lagi.
“bu, bisa kita bahas ini nanti. Nayla
cape banget bu” jawab Nayla semakin dingin. dia beranjak melangkah menuju
kamarnya.
“Nay, ibu Cuma bertanya darimana saja
kamu seminggu ini. ibu kuatir sama Nayla. Beberapa minggu ini Nayla selalu saja
pulang malam bahkan Nayla juga jarang pulang. Ibu kuatir sama kesehataan kamu
nak” lirih ibunya, dia mulai perasan dengan sikap dingin ankanya. Akh terlalu
banyak yang berubah dari sikap Nayla. Dulu Nayla tidak pernah bersikap sedingin
ini, Nayla selalu tersenyum dan ceria. Dia ingat kalau malam minggu seperti ini
mereka selalu menonton bersama di ruang tamu atau keluar jalan-jalan bersama
suaminya.
“ibu kenapa berdiri di situ?” tanya
ayah. Beliau sedikit merasa heran dengan sikap istrinya yang selalu saja
termenung sendiri. Beliau selalu merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan
oleh istrinya.
“Nayla, yah” jawabnya lembut seraya
memeluk suaminya. Ayah membalas pelukan istinya dia tahu perasaan sang istri
yang merindukan anaknya. Beliau juga perasan ddengan sikap Nayla yang sedikit
menjauh darinya dan istrinya.
“Nayla gak mau bicara sama ibu, yah”
akhirnya ibu bisa mengungkapkan segala perasaan yang mengganjal di hatinya.
Ayah hanya bisa menghela napas, beliau sebenarnya tidak tega dengan keadaan
istrinya. Selain memiliki penyakit darah tinggi beliau juga memiliki tekanan
batin karena sikap Nayla saat ini. beliau juga sebenarnya tidak mengerti kenapa
Nayla berubah seratus delapan puluh derajat, tidak ada lagi Nayla yang ceria
dan ramah, tidak ada lagi Nayla yang lembut dan tidak ada lagi Nayla yang
penurut. Semuanya seolah sirna di telan bumi, ‘Ya Allah bukakanlah pintu hati
anak hamba Ya Rabb. Jika dia memiliki beban maka ringankanlah bebannya dan jika
dia berbuat kekhilafan maka ampunkanlah’ lirih ayah dalam hati.
“sabar ya bu, mungkin Nayla memang
sedang banyak pekerjaan sehingga dia seperti itu”
***
Sementara itu di kamar Nayla tengah
mengeringkan rambutnya, dia baru saja selesai mandi. Meskipun dokter sudah
melarangnya untuk melakukan aktivitas berlebihan dan juga mandi di tengah
malam. Tapi semua itu dilakukannya untuk bisa melupakan tekanan batin yang
selama ini menghimpitnya. Tekanan yang dia dapat dari ibunya yang selalu
menanyakan soal pernikahan. Bukan dia
tidak ingin menikah tapi pada kenyataannya dia belum menemukan calon yang
sesuai dengan harapannnya. Dia tidak lagi melihat harta, pangkat, status atau
apapun yang berhubungan dengan keduniaan. Yang dia butuhkankan hanyalah
laki-laki yang menyerahkan cintanya
kepada Allah Swt. Mencintainya karena Allah bukan hanya karena nafsu seperti
laki-laki yang pernah datang padanya.
Selama ini bukannya dia sengaja ingin
menjauh dari orang tuanya tapi dia hanya tidak siap menghadapi orang tuanya.
Dia hanya takut kalau dia akan mengecewakan orang tuanya lagi jika mendengar
jawabannya.
Selama ini juga bukan dia tidak
berusaha untuk mendapatkan jodohnya. Dia memang sering menolak pinangan
laki-laki yang datang padanya tapi bukan karena alasan yang tidak jelas. Semua
yang datang padanya bukanlah laki-laki yang mampu membawa kebaikan dalam
kehidupannya. Bahkan selama ini dia tidak memutuskannya sendiri, dia selalu
melakukan istikharah panjang dalam setiap keputusan yang berkenaan dengan
kehidupannya. Dan semua jawabannya adalah jawaban yang selama ini dia utarakan
kepada kedua orang tuanya.
Nayla menghela nafas panjang, jika
mengingat sikapnya pada sang ibu. Dia selalu merasa bersalah dan dia selalu
minta ampun kepada Allah dalam setiap do’anya. Dia tahu dia sudah keterlaluan
tapi entah mengapa jiwanya selalu menolak untuk berhadapan ataupun sekedar
mendengarkan suara ibunya. Jiwanya seolah berontak dan memintanya untuk pergi
menjauh.
‘Ya Allah tunjukanlah aku petunjukmu
dalam menghadapi ujian ini. Hamba tidak sanggup menjalani semua ini sendiri Ya Rabb,
hamba butuh bantuan dan pertolongan-Mu Ya Rabb. Karena sesungguhnya tiada
tempat hamba untuk menyembah dan meminta pertolongan selain hanya pada-Mu Ya
Allah’ gumam Nayla dalam hati.
Leka dalam lamunan membuatnya tidak
menyadari bahwa dari tadi sang ayah sedang memperhatikannya dari daun pintu. Sang
ayah memperhatikannya dengan wajah yang tidak kalah sendu. Beliau dapat melihat
kesedihan dan tekanan yang menghimpit pikiran anak gadisnya itu. ‘maafkan ayah
nak. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. Maafkan ayah yang
membiarkanmu terlalu lena dengan pekerjaanmu hanya karena ayah tidak dapat
membantu apa-apa. Maafkan ayah yang terus menekanmu untuk menikah tanpa
memikirkan perasaan kamu. Tapi asal kamu tahu nak, ayah selalu mendo’akan hal
yang terbaik untukmu dan juga kebahagiaanmu. Ayah selalu berdo’a agar kamu
tetap kuat dan bahagia dalam menjalani kehiduoan dan ujian yang menimpa
kehidupanmu. Sekali lagi maafkan ayah karena hanya do’a yang bisa ayah berikan
untuk meringankan bebanmu’ gumam ayah dalam hati. Niat semula ingin berbicara
dengan anaknya terpaksa dia undur melihat wajah lelah anaknya. Seharian bekerja
memang tidak mudah untuk dijalaninya mengingat dia hanyalah seorang wanita yang
memiliki berbagai keterbatasan.
***
Hari itu Nayla bangun kesiangan. Memang
dia tertidur lagi setelah sembahyang subuh. Dia melihat ke arah jam dinding,
09.00. ternyata dia tertidur sangat lama. Nayla menoleh ke arah jendea yang
sudah terbuka dan mengundang sinar mentari untuk masuk menerangi kamarnya.
Lampu kamar sudah dimatikan dan .. ‘hmmpt’ dia mencium harum nasi goreng yang
sudah tersedia di meja kecil samping tempat tidurnya.
“akh. Ibu, kenapa ibu selalu membuat
Nayla merasa bersalah karena kasih sayang ibu. kenapa ibu masih sangat
mencintai Nayla padahal selama ini Nayla selalu bersikap buruk sama ibu” Nayla
bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju balkon. Dia ingin menghirup
udara segar yang sudah lama dia tidak hirup. Dia ingin melihat salah satu ciptaan
tuhan yang paling indah.
Nayla berdiri dia atas balkon,
memejamkan matanya dan menghirup udara sedalam mungkin, lalu kemudian
melepaskannya perlahan. Nayla melakukannya berulang-ulang sebelum membuka lagi
matanya. Saat dia membuka mata, seperti yang dia harapkan kalau dia akan
melihat ciptaan Tuhan yang paling indah. Sebuah wajah yang menyambutnya dengan
sebuah senyuman paling indah. Senyuman yang tak pernah berubah dari dulu.
Senyuman yang selalu ada dalam keadaan apapun. Senyuman yang selalu membuatnya
merasa bahwa dia tidak sendiri. Senyuman yang berasal dari sebuah ketulusan
kasih sayang seorang ibu.
Melihat senyuman itu membuat Nayla
sadar bahwa selama ini dialah yang telah dikuasai oleh ego dan juga kemarahan
sesaat. Seharusnya dia menyadari bahwa selama ini sang ibu hanya ingin yang
terbaik untuk dirinya. Mungkin perkataan murrabinya benar, selama ini dia
seharusnya tidak berusaha mendamaikan hati ibunya tapi seharusnya dialah yang
mencoba berdamai dengan diri sendiri.
‘seorang ibu hanya ingin yang terbaik
untuknya. dia tidak berharap apa-apa dari anaknya selain kebahagiaan mereka. Terkadang
memang dia memaksakan kehendaknya tapi itu bukan karena dia ingin menjeumuskan
anaknya, bukan juga karena dia tidak mengerti perasaan sang anak. Namun kasih
sayang mereka yang begitu besar membuat dia kadang khawatir dengan masa depan
anaknya. Dalam hal ini Ibumu terlalu khawatir jika saat dia pergi, belum ada
yang menjaga dan melindungi kamu secara utuh. Sedangkan ayahmu terlalu tua
untuk menjaga kamu. Dan rasa khawatir itulah yang menekan ibumu untuk melakukan
semua itu, percayalah nak, semua itu hanya wujud kasih sayang seorang ibu untuk
anaknya’ ucap sang murrabbi saat kemarin dia menyempatkan diri untuk mampir ke
mushola, setelah hampir 3 bulan dia absen dari pengajian itu.
‘itu artinya saya harus mencoba
berdamai dengan ibu saya ustadzah?’ tanya Nayla masih bingung. Nayla masih
ingat sang murrabi malah tersenyum dan menggeleng.
‘terus apa yang harus saya lakukan ustadzah?’
‘kamu tidak harus berdamai dengan ibumu
ataupun mendamaikan hatinya. Yang harus kamu coba lakukan adalah berdamai
dengan hati kamu sendiri, karena perasaan kamu lah yang membawamu pergi menjauh
dari ibumu dan perasaan itu jugalah yang membuat adanya perang dingin antara
kamu dan ibumu. Ibumu hanya ingin kamu
menuruti permintaannya, itu saja. Bukankah selama ini dia tetap memberikan
segala keputusan ada di tangan kamu. Bukankah selama ini dia tidak memaksa kau
untuk menerima’ ucap sang murrabi menekankan.
Nayla kembali memandang wajah sang ibu
yang sedang leka dengan bacaan di tangan. ‘mungkin sudah saatnya aku berdamai
dengan hatiku sendiri’.
***
Selepas mandi Nayla menyantap sarapan
yang telah disediakan ibunya.dia sudah bertekad bahwa hari ini adalah hari
terakhirnya bersikap dingin pada sang ibu. Dia sudah mantap untuk menerima apa
saja yang diminta oleh ibunya, termasuk mengikuti perjodohan yang selama ini
sangat dibencinya. Bukan dia tidak mau beriktiar tapi dari senarai calon
yang dikenalkan oleh ibunya tak ada
satupun yang memenuhi kriteria hatinya.
Piring dalam genggamannya kini sudah
kosong, dan susu dalam gelas juga telah habis. Nayla menghela nafas panjang
lalu kemudian menghembuskannya perlahan. Ada sedikit keraguan dalam dirinya
tapi semua itu harus segera di tepisnya. Dia harus yakin bahwa ini adalah jalan
yang terbaik.
Dia melangkah menuju tempat mencuci
piring di dapur dan langkahnya terheni melihat sang ibu telah lebih dulu
berdiri di dekat sinki, beliau sedang mencuci gelas teh, Nayla merasa ragu
untuk mendekati ibunya dan hendak berbalik. Biarlah dia mencuci ini nanti, dia
belum siap berbicara dengan ibunya.
“kamu mau kemana sayang?” pertanyaan
itu sontak membuat langkah Nayla terhenti. Dia berbalik lalu kemudian tersenyum
kepada ibunya, inilah saatnya dia kembali ke pelukan sang ibu. ‘kamu pasti bisa
Nay, benar kata ustadzah kalau selama ini akulah yang menjauh dari ibu dan
menciptakan perang dingin ini. Semua ini harus segera berakhir sebelum aku
menyesali semuanya’. Nayla menyimpan peralatan kotor itu di sinki lalu kemudian
mendekati ibunya.
“Boleh Nayla bicara dengan ibu?”
tanyanya sedikit ragu. Me;ihat keraguan sang anak ibu langsung mendekati
anaknya dan merangkul anaknya.
“sejak kapan seorang anak harus meminta
ijin terlebih dahulu untuk berbicara dengan ibunya. Atau kamu memang terbiasa
harus membuat janji terlebih dahulu untuk berbicara dengan seseorang?” pertanyaan
yag lembut namun mampu memukul keras perasaan Nayla, pertanyaan itu seolah
memang sengaja diucapkan untuk menakutinya.
***
“ibu, Nayla minta maaf sudah
mengecewakan ibu, Nayla minta maaf karena selalu membuat ibu marah, kesal,
bahkan Nay sering sekali membuat Ibu menangis karena sikap Nay. Nayla selalu
membantah ibu, Nay berkata kasar pada ibu, Nay juga selalu meninggalkan ibu,
bahkan di saat ibu membutuhkan Nayla... Nay minta maaf, Nay tidak bisa
membahagiakan Ibu, maaf jika Nay tidak bisa membuat ibu selalu tersenyum, dan
maaf jika Nayla belum bisa nepatin janji Nay sama Ibu... Nay minta maaf bu..
Nay mohon ampun sama ibu ... Nay ... Nay” kata-kata Nayla semakin tersendat
oleh air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir, terbayang kembali segala dosa
yang telah dilakukannya pada sang ibu. Semua itu tergambar jelas di pelupuk
matanya seperti sebuah rekaman yang tak bisa untuk dia hentikan. Dalam
bayangannya tergambar jelas bagaimana sikapnya selama ini pada sang ibu, saat
dia membantah ibunya, mengabaikan permintaannya, membentaknya, bahkan mencibir
setiap ucapannya. Dia juga teringat akan senyum sinis yang selalu dia sematkan
setiap kali ibunya membahas tentang pernikahan.
“Nay, bukan anak yang baik untuk ibu.
Nay durhaka sama ibu. Nay tidak pantas jadi anak ibu. Nay mohon ampun bu” Tangis
semakin menjadi bahkan kini tangannya sudah menggenggam erat tangan ibunya dan
sesekali menciumnya. Dia masih berusaha untuk menghentikan tangisnya tapi
dosa-dosanya pada sang ibu membuatnya tidak bisa berhenti. Terlalu banyak dosa
yang telah dia lakukan, bahkan entah beratus ribu kesalahan yang dia buat.
“Nayla, peluk ibu sayang” tanpa berkata
apa-apa Nayla langsung memeluk sang ibu, begitu hangat dan menenangkan tapi
kenapa baru sekarang dia merasakannya. Kemana perasaan ini saat dulu ibunya
memluknya. Kenapa dulu dia selalu merasa kesal saat ibu memeluknya seperti ini.
“Nayla jangan nangis ya sayang. Ibu
udah maafin Nayla bahkan sebelum Nayla melakukan kesalahan. Ibu tahu semua itu
Nayla lakukan karena Nayla sayang kan sama ibu. Nayla tahu, Nayla adalah
anugerah terindah untuk ibu. Nayla anak kebanggaan ibu, Nayla adalah sumber
kebahagiaan ibu. Ibu tahu selama ini Nayla selalu berusaha untuk menyenangkan
hati ibu kan, itu cukup buat ibu. Tangisan ibu adalah tangisan bahagia karena
ibu memiliki anak yang baik seperti Nayla” ucap ibunya parau, Nayla semakin
mengeratkan pelukannya dia tahu ini adalah pelukan terakhirnya, dan dia tidak
mau melepaskannya begitu saja.
“tapi Nayla sudah mengecewakan ibu,
Nayla belum bisa nepatin janji Nayla sama Ibu” tangisannya semakin menjadi
tatkala sang ibu melepaskan pelukannya.
“Nayla pandang ibu sayang” ibu
mengangkat wajah anak perempuannya. “saat Nayla berjanji sama ibu, ibu yakin
kalau Nayla pasti akan menepatinya. Jika memang saat ini Nayla belum
menapatinya itu bukan salah Nayla. Itu takdir Allah swt. Dia pasti memiliki
rencana lain buat Nayla, rencana yang mungkin jauh lebih indah dari apa yang
telah Nayla lewatkan sebelumnya. Ibu sudah ikhlas nak, Ibu sadar kalau semua
itu adalah kehendak-Nya kita sebagai manusia tidak bisa mengubah apa-apa
ketetapan-Nya. Dalam do’a ibu, ibu selalu berdo’a untuk kebahagiaan anak-anak
ibu. Ibu selalu berdo’a untuk kebahagiaan kalian dan segala yang terbaik untuk
kalian. Dan ibu juga selalu berdo’a agar pilihan Nayla nanti adalah pilihan
terbaik di mata Allah. Dan jika memang ibu tidak diijinkan untuk melihatnya
disini maka ibu akan melihatnya disana di dunia keabadian. Ibu Ikhlas nak”
nayla kembali memeluk ibunya, dia tidak peduli lagi dengan airmatanya yang
sudah mengering, atau bajunya yang sudah basah dengan air mata tapi yang dia
tahu adalah dia beruntung memiliki ibu yang selalu menyayanginya.
“sudahlah nak. Jangan menangis lagi
sayang. Mana Nayla yang ibu kenal, mana Nayla yang kuat dan tegar, mana Nayla yang selalu tersenyum, ceria dan
bersemangat. Ibu butuh Nayla yang seperti itu bukan Nayla yang lemah dan
cengeng” ucapnya melepaskan pelukan Nayla, dia kembali meanmandang wajah anaknya
dan menautkan kedua ibu jarinya di sudut bibi Nayla menariknya agar terbentuk
sebuah senyuman.
“tersenyum ya sayang, ibu suka ngeliat
senyuman kamu. setelah ini kamu harus berjanji sama ibu untuk tetap tersenyum
ya, nak. Jangan pernah menangis seperti ini lagi, Ibu lebih suka dengan
senyuman Nay bukan air mata Nay. Ibu pengen senyuman Nay ini akan menjadi teman
bagi ayah nanti, menjadi penghibur untuk ayah dan mengobati segala sepi dan
kerinduan ayah. Ibu titip ayah ya sayang, jaga dia dan jangan pernah biarkan
dia menangis lagi. Ibu tidak mau melihat ayah menangis lagi, karena ayah kamu
akan terlihat jelek saat menangis” itulah amanat terakhir ibu kepada Nayla
lkarena setelah kalimat itu hanya kalimat syahadat yang terucap dari mulut.
Sebelum akhirnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir dan merungkai pelukan
Nayla.
Tetesan penyesalan itu kembali hadir di
setiap malam yang dilaluinya, malam-malam yang dia lalui sendiri setelah
kematian sang ibu. Kini sudah tidak ada lagi ocehan sang ibu, tidak ada lagi
kekesalan saat dia pulang malam dan tidak ada lagi nasihat panjang yang selalu
diucapkan ibunya saat dia pulang malam atau bangun terlambat. Meski sudah 1
tahun tapi semuanya terasa begitu cepat, bahkan terlalu cepat untuk menghapus
rasa bersalahnya.
“kamu menangis lagi sayang” suara serak
itu membangunkan Nayla dari lamunannya, membawanya kembali pada kenyataan yang
sebenarnya tidak diinginkannya. Dia lebih selesa saat membayangkan keberadaan
ibunya disisinya. Nayla menoleh ke pada ayahnya dan tersenyum. Bukan ayah tidak
tahu dengan perasaan anaknya tapi dia menghargai usaha sang anak untuk memenuhi
janji pada istrinya. Selama satu tahun ini dia memang selalu melihat senyuman
Nayla. Tapi beliau tahu bahwa senyuman itu hanya sebatas janji bukan sebuah
ketulusan.
“Nay, rindu ibu?” tanya ayah, beliau
duduk di samping Nayla dan memandang wajah anakanya. Masih terdapat sisa
tangisan disana, air mata yang tidak terhapus sempurna itu terlihat begitu saja
dimatanya.
“Ibu adalah orang yang paling Nay
cintai di dunia ini. jika ayah bertanya apa Nay rindu ibu? Tentu saja Nay
merindukannya, Nay rindu senyuman ibu, belaian ibu dan juga pelukan ibu. Nay
juga rindu nasihat ibu, bahkan Nay rindu dengan ocehan ibu” Nayla tersenyum ke
arah luar balkon.
Tentu saja dia sangat merindukan sang
ibu. Tiada yang mampu menggantikan posisi sang ibu dalam hatinya karena sang
ibu adalah satu-satunya permata kehidupan yang tak akan pernah ada yang
menggantikan keindahannya. Ketulusan dan kasih sayang sang ibu adalah sumber
semangat dan kehidupannya dalam menjalani kehidupannya. Nayla sadar kalau semua
titu tak akan pernah bisa dia balas meski dia menghadiahkan gunung emas untuk
sang ibu.
“bu. Tak terasa sudah satu tahun ibu
pergi, meninggalkan Nayla dan semua peyesalan ini. Bu, besok Nayla akan menikah
bu. Setelah penantian panjang ahirnya Allah mempertemukan Nayla dengan imam
Nayla bu. Bu, senadainya ibu ada disini mungkin sekarang Nayla akan melihat
senyuman ibu. Nayla juga akan mendengarkan nasihat-nasihat ibu. Seandainya ibu
ada disini mungkin Nayla bisa memeluk ibu dan mencurahkan segala kegelisahan
Nayla. Nayla gugup bu, Nayla takut. Nayla takut tidak bisa menjadi seorang
isteri dan ibu yang baik. Nayla takut tidak bisa seperti ibu yang selalu
melakukan apa saja untuk ayah dan kami anak ibu. tapi ibu jangan khawatir,
Nayla akan berusaha untuk menjadi isteri yang baik dan taat pada suami seperti
apa yang ibu katakan pada Nayla. Bu, terima kasih telah melahirkan Nayla,
memberikan Nayla kesempatan untuk menghirup dan melihat indahnya dunia. Terima
kasih karena membesarkan Nayla dengan penuh kasih sayang, terima kasih karena
ibu memberi kesempatan kepada Nayla untuk menjadi anak dari wanita hebat
seperti ibu. terima kasih untuk kasih sayang dan ketulusan yang selalu ibu
berkan dalam setiap hembusan nafas ibu, terima kasih untuk do’a yang tiada
pernah berhenti kau lafazkan untuk kami anakmu. Tiada apa yang dapat Nayla
berikan selain lantunan ayat suci ini untuk ibu. Hanya do’a tulus berharap ibu
akan tenang dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Semoga Allah menempatkan
ibu bersama golongan orang-orang yang
sholeh”
***